First Goal Ever

Bek kiri. Itu posisi pertamaku di tim ini. Padahal sejak kecil aku tak pernah bermain sebagai pemain belakang. Striker, itu posisi favoritku. Kalau pun tidak ke belakang sedikit, midfielder. Maka itu, aneh saja aku berada di posisi yang asing seperti ini. Seperti tak berkutik, aku juga tak terlalu berkontribusi untuk tim. Sepertinya pertandingan tak akan menjadi spesial.

Entah darimana, di sela-sela pertandingan kakak melihatku, lalu mendekat, dan berkata,” Posisimu itu di depan, jangan main di belakang !” Eh, iya, tapi aku sudah diplot di sini. Kataku dalam hati. Beberapa menit selanjutnya berlalu dengan perasaan bingung: tetap bertahan atau membantu menyerang. Saat itu kedudukan masih 0-0. Pertandingan putaran pertama classmeeting sepak bola kelas satu, 1 F vs 1 C.
Continue reading

Advertisements

Ibracadabra

Ibrahimovic, nama itu kembali terlintas di kepala saya ketika saya melihat cuplikan pertandingan antara PSG vs Dinamo Zagreb tengah pekan ini di Liga Champion. Laga ini  berakhir 4-0 untuk PSG dan keempat gol dihasilkan dari empat assist Ibra, Wow ! Jarang sekali ada pemain yang melakukan hal seperti ini. Fantastis.

Saya mulai mengenal Ibra sejak ia berkostum biru-hitam dan langsung terkesima dengan permainannya. Badannya yang tinggi dan besar, skill individu yang di atas rata-rata, tendangan yang keras, kemampuan aerial yang membuatnya selalu menang saat duel udara, serta yang menjadi ciri khasnya tendangan akrobatik.  Konon, kemampuan yang terakhir ini sering muncul lantaran dia pernah berlatih taekwondo.  Tak bisa dibayangkan bagaimana seorang Ibra bermain taekwondo. Di tendang tak mental, sekali nendang lawannya bisa langsung jatuh pingsan.
Continue reading