Oleh-Oleh dari Negeri Tirai Bambu: Shalat

Shalat

Akhirnya, sampai juga pada pembahasan yang paling menarik: shalat. Kenapa menarik? Ya, karena inilah yang saya khawatirkan jauh-jauh hari sebelum saya mendapat tugas negara ini.  Ke Cina? Ntar shalatnya gimana? Emang ada masjid di sana? Dan ini lah ujian yang paling berat.  Karena shalat adalah tiang agama. Lha kalau sampai gak bisa shalat selama di Cina, bisa-bisa pulang-pulang ambruk agama saya..

Menurut kabar, mayoritas masyarakat Cina adalah atheis. Konghucu bagi orang China bukanlah agama, melainkan sebagai budaya.  Whatever itu, yang jelas, masyarakat muslim di sini minoritas.  Di sudut-sudut kota sangat jarang ditemui warga yang berpakaian muslim.  Mungkin ada di beberapa district, namun bila dibandingkan dengan seluruh penduduk Cina jelas sangat kecil sekali.  Jadi, bagaimana mungkin berharap masjid berdiri tegak di berbagai penjuru kota? Jangan pula berharap tentang suara adzan yang saling bersaut-sautan seperti di negeri ini.  Masya Allah, bukankah sebaik negeri adalah negerinya kaum muslimin?

Walhamdulillah, kewajiban shalat tidak terpaku pada tempat.  Artinya tidak terpaku harus dilakukan di masjid.  Asal tempatnya bersih, insya Allah bisa dijadikan tempat shalat.  Begitu pula di Cina kemarin.  Memang tidak banyak shalat yang saya kerjakan di luar.  Kebanyakan saya manfaatkan waktu di hotel. Hanya beberapa kali saja shalat di luar seperti: di ruang kosong di daerah Terracotta saat Xi’an, di sudut-sudut sepi di bandara, di ruang kantor kosong di pabrik saat waktu istirahat, dan terakhir di dalam bank.  Subhanallah, berat memang mempertahankan agama di negeri yang mayoritas non muslim seperti ini.  Tantangannya bukan hanya saat shalat akan dilihat banyak orang, tetapi juga air yang dingin, yang membuat kita malas untuk berwudhu. Continue reading

Advertisements