Dongeng Fiktif

Baru saja saya membaca artikel menarik tentang kenakalan anak-anak kecil di negeri Yaman. Cerita ini bersumber dari pengalaman para pelajar Indonesia yang telah dan sedang mencari sejumput ilmu kepada para ulama di negerinya Abu Hurairah, sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits.  Dari artikel itu, ada bagian yang begitu berkesan dan menarik bagi saya.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya. Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud. Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar’i.
Continue reading

Advertisements

Celana Cungklang

Tulisan kali ini tentang celana cungklang. Ahahai, apa pulak ini. Ya, saya hanya ingin share sedikit tentang masalah celana yang menjadi identitas para kalangan anti-mainstream ini.

Sebenarnya saya adalah pemakai celana cungklang yang kurang baik. Sejak pertama kali mengenal syariat ini sampai saat ini level ke-cungklang-an saya masih segitu-gitu aja. Padahal sudah hampir sekitar 10 tahun. Level saya masih sebatas tepat sesaat sangat dekat dengan mata kaki. Karena masing-masing celana tidak sama ukurannya, ya ada sedikit kurang lebihnya. Tapi masih di level itu-itu saja.

Celana cungklang atau cingkrang ini pertama kali saya kenal saat masih kelas 2 SMP. Saat itu saya sedang membaca buku kumpulan hadits, judulnya saya lupa, terbitan lama, kertasnya masih pakai yang berwarna coklat-coklat dengan cover cetakan khas tempo doeloe. Disitu ada hadits sebuah hadits yang artinya,

Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” (HR. Bukhari)

Nah loh! Waktu itu saya masih menjadi penuntut ilmu serabutan. Comot sana comot sini. Baca sana baca sini. Gak punya ustadz dan pembimbing. Maklum saja karena saya bukan santri pondok atau madrasah. Karena sepertinya konteks haditsnya tegas, maka saya mulai menafsirkan sendiri bahwasanya hal itu mutlak untuk semua pakaian, entah itu sarung atau celana, untuk semua keadaan, baik saat shalat maupun tidak. Alhasil, waktu itu saya sering melinting celana panjang saya.  Kecungklangan saya pun mendapat respon dari orang tua. “Mbok celonone ra sah dilinting-linting ngono..,” ujarnya.  Karena sering dibilang seperti itu, saya kemudian melintingnya kalau sudah tidak di rumah.
Continue reading

Aku dan Islam: Anak ROHIS

Perjalanan saya untuk belajar tentang Islam dimulai sejak SMA.  Masa dimana saya mulai menjalani kehidupan dengan lebih serius.  Masa dimana emosi sudah semakin berkembang, pikiran sudah semakin tertata.  Adalah ROHIS yang menjadi pintu masuk bagi saya untuk mengenal Islam lebih baik.  Organisasi dimana siswa-siswa yang “terpilih” bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk lebih mendalami agamanya.  Sebuah wadah dimana kita saling bertukar pikiran, pemahaman, nasehat, serta tsaqafah Islamiyah dengan lebih intens dan terperinci.  Sebuah perkumpulan dimana Islam merupakan satu-satunya asas yang paling dijunjung tinggi.

ROHIS bagi saya bukan hal baru saat itu. Dua tahun sebelumnya, saat saya masih duduk di kelas 2 SMP, saya pernah mengikuti acara akbar tahunan yang diadakan oleh ROHIS SMA ini, namanya Ramadhan Intensif Remaja (RIR).  Waktu itu, sebagai orang yang masih sangat awam dengan agama, saya terpesona dengan kepribadian dan militansi para pengurusnya.  Jenggot panjang, celana cungklang -meski masih dilipat-, serta wawasan agamanya yang cukup, memberi gambaran bagi saya betapa mereka sangat Islami sekali.  Maka, sejak saat itu, ketika nanti saya bisa melanjutkan sekolah di SMA ini, saya bertekad untuk ikut kegiatan ROHIS.
Continue reading