Celana Cungklang

Tulisan kali ini tentang celana cungklang. Ahahai, apa pulak ini. Ya, saya hanya ingin share sedikit tentang masalah celana yang menjadi identitas para kalangan anti-mainstream ini.

Sebenarnya saya adalah pemakai celana cungklang yang kurang baik. Sejak pertama kali mengenal syariat ini sampai saat ini level ke-cungklang-an saya masih segitu-gitu aja. Padahal sudah hampir sekitar 10 tahun. Level saya masih sebatas tepat sesaat sangat dekat dengan mata kaki. Karena masing-masing celana tidak sama ukurannya, ya ada sedikit kurang lebihnya. Tapi masih di level itu-itu saja.

Celana cungklang atau cingkrang ini pertama kali saya kenal saat masih kelas 2 SMP. Saat itu saya sedang membaca buku kumpulan hadits, judulnya saya lupa, terbitan lama, kertasnya masih pakai yang berwarna coklat-coklat dengan cover cetakan khas tempo doeloe. Disitu ada hadits sebuah hadits yang artinya,

Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” (HR. Bukhari)

Nah loh! Waktu itu saya masih menjadi penuntut ilmu serabutan. Comot sana comot sini. Baca sana baca sini. Gak punya ustadz dan pembimbing. Maklum saja karena saya bukan santri pondok atau madrasah. Karena sepertinya konteks haditsnya tegas, maka saya mulai menafsirkan sendiri bahwasanya hal itu mutlak untuk semua pakaian, entah itu sarung atau celana, untuk semua keadaan, baik saat shalat maupun tidak. Alhasil, waktu itu saya sering melinting celana panjang saya.  Kecungklangan saya pun mendapat respon dari orang tua. “Mbok celonone ra sah dilinting-linting ngono..,” ujarnya.  Karena sering dibilang seperti itu, saya kemudian melintingnya kalau sudah tidak di rumah.
Continue reading

Advertisements