Fanatisme Tifosi

Di antara banyak perkataan para tifosi, ada salah satu yang akhir-akhir sering terngiang-ngiang: “Gua gak pernah menyesal dilahirkan sebagai Romanisti”

Mungkin bagi yang tak suka bola, kata-kata itu terdengar aneh. Mengada-ngada. Kayaknya koq maksa banget. Tapi bagi para penggemar bola, hal itu wajar-wajar saja. Apalagi buat mereka yang menyebut diri mereka ultras, tifosi sejati.  Suatu perasaan yang secara naluri akan muncul ketika diri mereka tak mampu menjawab mengapa mereka begitu mencintai sebuah klub yang padahal prestasinya gak bagus-bagus amat.  Perasaan begitu sangat memiliki, begitu sangat cinta meskipun klub yang dibelanya sering mengalami kekalahan. Ya, urusan cinta memang sedikit rumit. Tak bisa dilogika katanya. Karena sudah kadung tresno, maka dia tak akan mudah berpaling ke lain hati. Dan sekali lagi, meski, meski, dan meski timnya tak pernah berprestasi, dia akan tetap cinta dan membela klub kesayangannya. Dan akhirnya muncul statement di atas.

Masih belum paham? Yasudahlah, memang tujuan bikin note ini bukan untuk memahamkan seseorang tentang arti cinta (jiaaahhh…). Justru sebaliknya, meskipun saya memaklumi statement seperti itu, bukan berarti saya membenarkan dan melazimkan. Saya pun setuju, kalau dipikir menggunakan akal sehat dan hati yang bersih, kalimat seperti itu akan muncul ketika hati kita sudah buta.  Buta terhadap hakikat.  Buta terhadap kenyataan yang sudah tertutup pekatnya syahwat (hmmm, sebenarnya istilah syahwat gak cocok-cocok amat si, tapi biar akhirannya -at semua terpaksa dipakai istilah itu, hehe..).

Ya, kita sedang berbicara tentang fanatisme.  Fanatisme yang tidak pada tempatnya.  Ketika saya berkunjung ke page Romanisti Indonesia (kebetulan yang dilike cuma itu doank), banyak sekali komentar-komentar bernada fanatisme yang menurut saya berlebihan.  Meskipun itu wajar, bukan berarti itu dibenarkan.  Padahal kalau saja mereka mau berhenti sejenak untuk menjadi Romanisti (dari tadi contohnya Romanisti entar kalau pake klub lain pada protes, hehe..), merenung, berpikir jernih menggunakan akal sehat, maka dia akan tersenyum-senyum sendiri melihat kelakuannya yang aneh dan gak masuk akal.

Iya, fanatisme terhadap suatu klub kadang membuat kita lupa segalanya.  Lupa bahwa tujuan hidup bukan untuk menjadi supporter salah satu klub.  Lupa bahwa hidup ini terlalu berharga untuk sekedar memantau perkembangan klub yang kita cintai.  Lupa bahwa waktu kita terlalu berharga untuk sekedar bangun malam menonton klub kesayangan kita bertanding sampai lupa shalat malam.  Lupa bahwa dukungan kita terhadap klub tidak akan berpengaruh apa-apa, dan sebaliknya cemoohan kita terhadap klub lain juga tidak akan melahirkan efek apa-apa.

Dan cukuplah sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya

Bukankah ini kabar baik sekaligus sebagai peringatan? Ya iya kalau yang kita cintai dan idolakan itu Rasulullah dan para shahabatnya, lah kalau yang masih jadi nomer satu di hati kita itu semisal Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Fransesco Totti, Del Piero, Oliver Kahn, dan yang lainnya.  Apa mau nanti kita dibangkitkan di Hari Penghitungan dalam keadaan bersama mereka? Allahul musta’an.

Semoga kita diselamatkan dari fitnah dunia dan fitnah cinta serta ditunjukkan jalan menuju cinta yang hakiki.

Advertisements

Cinta…

Pukul 17.16. Lima belas menit lagi adzan Maghrib waktu Jungkat dan sekitarnya. Sebelum itu, mari sedikit berbicara tentang cinta, ahahay…

Cinta itu apa ya? Ini bukan tentang cinta seorang ibu kepada anaknya, atau cinta kakak terhadap adiknya, atau cinta seorang pemain bola kepada klub yang membesarkannya. Hmmm, tapi cinta yang biasa kita suka sebut kalau sedang terjangkit virus merah delima, eh merah jambu dink…

17.19. Kurang dua belas menit lagi. Harus cepet-cepet diselesaikan tulisan ini.

Baiklah, langsung saja. Cinta itu, emmmmm, gimana y? Disuruh buru-buru si, jadi gak fokus ini.

Cinta itu, eh, aku percaya, hmmm, maksudnya, cinta yang seperti itu sejatinya hanya bisa dirasakan ketika sudah menikah. Loh koq? Iya, udah percaya aja.

Jadi, kalau kamu ngelihat aku baikin kamu itu bukan karena cinta. Atau aku nanyain kamu waktu kamu lagi sakit, itu bukan karena cinta. Atau, kalau aku lagi baik mau nganter kamu kemana kek gitu, itu bukan atas nama cinta.

Terus apa itu? Hmmmm, sebut saja namanya, emmmm, apa ya, haha….kata orang tua si simpati.

Intinya, cinta itu tak mungkin datang ujug-ujug. Dia muncul karena berproses. Dari kecil membesar. Kadang udah besar terus kecil lagi.

Dan yap, udah 17.24. Tinggal tujuh menit lagi saudara-saudara. Continue reading

Aku dan Cinta: First Love

First love atau cinta pertama. Bukan istilah yang asing lagi bagi kita. Setiap masing-masing kita memiliki kisah sendiri bagaimana perasaan cinta itu muncul pertama kali.  Saya rasa, bagi kebanyakan orang,  cinta pertama hadir saat mereka mulai tumbuh dewasa, saat masih remaja, saat baru pertama kali merasa adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dan hanya sedikit sekali di zaman ini mereka yang baru merasakan cinta pertama saat sudah tumbuh dewasa.

Ya, cinta. Anggaplah begitu. Sebenarnya pemaknaan akan cinta pertama sendiri tidak terlepas dari bagaimana seseorang memaknai akan arti cinta itu sendiri. Saya sendiri, meyakini bahwa pemaknaan cinta setiap orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Mereka yang baru menginjak bangku SMP, mereka yang baru berseragam SMA, mereka yang sedang kuliah, atau mereka yang sedang menjalani hari-harinya pasca kuliah memiliki pengertian yang berbeda tentang arti cinta. Makna akan cinta itu akan berkembang sesuai dengan pengalaman dan pemahaman hidup kita, seiring dengan usia dan kedewasaan seseorang. Jadi, bagaimana mungkin cinta pertama itu hanya datang satu kali?  Tidak, cinta pertama itu akan datang berkali-kali seiring dengan berubahnya makna cinta itu sendiri bagi seseorang. Hanyasaja dengan syarat, pemaknaan cinta itu memilik makna baru dan bisa menghapus makna cinta sebelumnya. Indikasi yang paling jelas, saat ini kita tak bisa lagi mencintai yang dulu pernah kita cinta.  Bukankah kita pernah merasa begitu? 🙂

Continue reading

Aku dan Cinta: Prolog

Kisah cinta masa remaja. Di dalam suatu negeri yang kebanyakan institusi pendidikannya tidak ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan, adalah lumrah bila kita sering mendengar berbagai macam kisah cinta sepasang dua anak manusia di kala masih berusia belia. Dalam kisah itu, ditemui perasaan bahagia, tawa, tangis, pilu, atau nelangsa.  Akhir ceritanya ada yang happy ending, ada yang sad ending.  Saya tidak mengatakan semua, tapi sebagian besar manusia di negeri ini pasti pernah mengalaminya.

Masa SMP adalah masa dimana pertumbuhan emosional dan fisik kita mulai bertransformasi secara pesat dari anak-anak menuju remaja. Persinggungan fisik antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dianggap lagi hal yang biasa. Masih segar diingatan saya ketika saya mengajak bersalaman teman-teman perempuan waktu acara halal bi halal saat kelas 1 SMP. Untungnya, saat itu tak ada yang menyambut. Saya agak malu-malu memang, hehe… 🙂

Pada sebagian orang, saat duduk di bangku SMP adalah masa di mana mereka menemukan “cinta pertamanya” (ehem.. ). Asal mulanya bisa bermacam-macam.  Entah itu dari pandangan pertama, entah itu karena sering bertemu di dalam kelas, atau entah karena sesuatu hal. Pluk. Begitu bunyinya. Perasaan itu jatuh dari mata turun ke hati. Tak disangka darimana asalnya. Semakin hari justru semakin hebat. Terlebih bila sang pujaan hati memberikan umpan balik kepada kita. Satu senyuman saja bisa membuat kita terbang menuju planet Mars, ehehe..

Continue reading