Dongeng Fiktif

Baru saja saya membaca artikel menarik tentang kenakalan anak-anak kecil di negeri Yaman. Cerita ini bersumber dari pengalaman para pelajar Indonesia yang telah dan sedang mencari sejumput ilmu kepada para ulama di negerinya Abu Hurairah, sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits.  Dari artikel itu, ada bagian yang begitu berkesan dan menarik bagi saya.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya. Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud. Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar’i.
Continue reading

Advertisements

Jazakillah Akhi…

Suatu waktu, ada salah seorang teman perempuan berkomentar di status saya,”jazakillah akhi…”. Glekk! Maksud lo?

Ya, perasaan saya waktu itu jadi campur aduk, antara sebel sama geli, antara pengen marah sama pemakluman. Meskipun saya belum selesai belajar bahasa Arab di Mustawa Tsani (jenjang kedua), meskipun juga belajar Durusul Lughoh jilid II belum tamat, tapi -wabillahi taufiq- saya sudah bisa membedakan mana ungkapan untuk laki-laki dan mana untuk perempuan. Ungkapan jazakillah adalah ungkapan terima kasih yang ditujukan untuk perempuan karena “ki” di sini adalah kata ganti (dhomir) untuk perempuan (muannats). Karena itu, waktu itu saya agak sedikit geli. Sedikit si, tapi banyak sebelnya, hehe…

Selang beberapa waktu, saya menemukan kata yang tidak pas di tempat lain. Sepertisyafakillah, yang merupakan do’a untuk orang yang sakit tapi ditujukan untuk seorang laki-laki. Glekk (lagi)! Bukannya malah sembuh, bisa-bisa orang itu jadi tambah panas dikatain seperti perempuan. Ada lagi yang lebih parah, pada ungkapan barakallah. Mungkin ingin menyamakan dengan ungkapan jazakillah dan syafakillah, maka ungkapan barakallahuntuk perempuan diganti menjadi barakillah, what??
Continue reading

Celana Cungklang

Tulisan kali ini tentang celana cungklang. Ahahai, apa pulak ini. Ya, saya hanya ingin share sedikit tentang masalah celana yang menjadi identitas para kalangan anti-mainstream ini.

Sebenarnya saya adalah pemakai celana cungklang yang kurang baik. Sejak pertama kali mengenal syariat ini sampai saat ini level ke-cungklang-an saya masih segitu-gitu aja. Padahal sudah hampir sekitar 10 tahun. Level saya masih sebatas tepat sesaat sangat dekat dengan mata kaki. Karena masing-masing celana tidak sama ukurannya, ya ada sedikit kurang lebihnya. Tapi masih di level itu-itu saja.

Celana cungklang atau cingkrang ini pertama kali saya kenal saat masih kelas 2 SMP. Saat itu saya sedang membaca buku kumpulan hadits, judulnya saya lupa, terbitan lama, kertasnya masih pakai yang berwarna coklat-coklat dengan cover cetakan khas tempo doeloe. Disitu ada hadits sebuah hadits yang artinya,

Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” (HR. Bukhari)

Nah loh! Waktu itu saya masih menjadi penuntut ilmu serabutan. Comot sana comot sini. Baca sana baca sini. Gak punya ustadz dan pembimbing. Maklum saja karena saya bukan santri pondok atau madrasah. Karena sepertinya konteks haditsnya tegas, maka saya mulai menafsirkan sendiri bahwasanya hal itu mutlak untuk semua pakaian, entah itu sarung atau celana, untuk semua keadaan, baik saat shalat maupun tidak. Alhasil, waktu itu saya sering melinting celana panjang saya.  Kecungklangan saya pun mendapat respon dari orang tua. “Mbok celonone ra sah dilinting-linting ngono..,” ujarnya.  Karena sering dibilang seperti itu, saya kemudian melintingnya kalau sudah tidak di rumah.
Continue reading

Tentang Jenggot

Tulisan kali ini tentang jenggot. Wew, kenapa jenggot? Yap, akhir-akhir ini saya sedang terkesan dengan jenggot saya. Loh…

Qodarullah, jenggot saya tak serapi yang lain. Jenggot saya tumbuh sembarangan kalau tidak dibilang liar. Di dagu itu pasti. Lalu ada juga tumbuh jambang di kanan dan di kiri. Tapi bukan tumbuh terus sampai dagu macam “brewok” gitu, tapi justru tepat di antara telinga dan dagu alurnya malah berbelok ke arah pipi. Nah uniknya, rambut di pipi sudah tumbuh duluan sebelum saya akhirnya menyadari pembelokan arah itu. Terjadilah apa yang terjadi. Belakangan ini jenggot saya juga tumbuh ke arah leher. Maka, semakin sempurnalah penampakan jenggot saya yang sangat spesial ini.

Jangan dikira memelihara jenggot bukan tanpa tantangan. Banyak sekali tantangannya, bukan dari luar, malah lebih seringnya dari dalam. Ada perasaan jadi gak ganteng, ada perasaan nanti dikira teroris, ada perasaan nanti gak ada cewek yang mau (hehe..), dan seabrek perasaan yang lain. Dan ketika perasaan itu muncul, saya kuatkan azzam saya untuk tetap di atas jalan Nabi. Saya coba ikutkan dengan mengingat hadits Nabi,

“Peliharalah jenggot kamu dan cukurlah kumis kamu, janganlah kamu meniru (menyerupai) Yahudi dan Nasrani”. (HR Ahmad)
Continue reading

Aku dan Islam: Anak ROHIS

Perjalanan saya untuk belajar tentang Islam dimulai sejak SMA.  Masa dimana saya mulai menjalani kehidupan dengan lebih serius.  Masa dimana emosi sudah semakin berkembang, pikiran sudah semakin tertata.  Adalah ROHIS yang menjadi pintu masuk bagi saya untuk mengenal Islam lebih baik.  Organisasi dimana siswa-siswa yang “terpilih” bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk lebih mendalami agamanya.  Sebuah wadah dimana kita saling bertukar pikiran, pemahaman, nasehat, serta tsaqafah Islamiyah dengan lebih intens dan terperinci.  Sebuah perkumpulan dimana Islam merupakan satu-satunya asas yang paling dijunjung tinggi.

ROHIS bagi saya bukan hal baru saat itu. Dua tahun sebelumnya, saat saya masih duduk di kelas 2 SMP, saya pernah mengikuti acara akbar tahunan yang diadakan oleh ROHIS SMA ini, namanya Ramadhan Intensif Remaja (RIR).  Waktu itu, sebagai orang yang masih sangat awam dengan agama, saya terpesona dengan kepribadian dan militansi para pengurusnya.  Jenggot panjang, celana cungklang -meski masih dilipat-, serta wawasan agamanya yang cukup, memberi gambaran bagi saya betapa mereka sangat Islami sekali.  Maka, sejak saat itu, ketika nanti saya bisa melanjutkan sekolah di SMA ini, saya bertekad untuk ikut kegiatan ROHIS.
Continue reading

Tiga Jenis Jilbab

Jilbab. Malam ini saya teringat sesuatu tentang jilbab. Wanita yang memakai jilbab memang memiliki kesan  tersendiri bagi laki-laki.  Kesan itu juga bervariasi, tergantung dari jenis jilbab yang dipakai.  Berbicara tentang variasi jilbab, dulu waktu SMA saya pernah membagi jilbab ke dalam 3 kelompok: jilbab bahu, jilbab siku, dan jilbab tangan.  Ketiga jenis ini tergantung dari sejauh mana jilbab tersebut menutupi tubuh perempuan tersebut. Baiklah, berikut penjelasannya.

Pertama, jilbab bahu. Adalah jilbab yang jangkauannya hanya sebatas bahu. Sepertinya jilbab ini jenis yang paling banyak memiliki variasi. Ada yang langsung jadi, ada yang model segiempat terus diputar-putar (haha…saya sendiri tidak tau bagaimana memakainya), ada yang pakai bunga, ada lalu ujungnya mengerucut, dan lain-lain.  Warnanya juga sangat beragam, dari yang mencolok mata sampai yang adem-adem saja.  Sepertinya jilbab ini pilihan bagi wanita yang baru saja mulai berazzam untuk memakai jilbab.  Bagaimana pun, hal itu harus disyukuri daripada yang tidak berjilbab sama sekali. Asalkan kemudian ada peningkatan, tidak stagnan hanya pada level jilbab bahu saja.
Continue reading

Ketika Jemariku Menari di Atas Keyboard

Alhamdulillah, atas rizki dari Allah, kemarin rabu saya resmi memiliki sebuah perangkat komunikasi baru yang katanya cerdas. Telepon genggam itu bermerk Berry hitam dengan spek yang lumayan. Dan, ih waw, ternyata saya memang katrok soal teknologi terbaru.  Udah pertama bingung cara pakainya, gimana download aplikasinya, dimana cari tahu pin-nya, sampai tanya temen, ini indikator hape kalau udah dicharge penuh kayak apa.  -_-

Memang, pada mulanya saya gak terlalu ingin membeli hape baru.  Dengan alasan tak ada keperluan yang mendesak, hape yang lama juga sudah cukup memenuhi semua kebutuhan komunikasi.  Telepon, sms, facebook, twitter, livescore, dan browsing situs-situs tertentu. Hape itu adalah hape yang dulunya punya perusahaan Finlandia bertipe C2-01.  Namun, suatu kebutuhan lain yang tak disangka pun muncul.
Continue reading