Tiga Jenis Jilbab

Jilbab. Malam ini saya teringat sesuatu tentang jilbab. Wanita yang memakai jilbab memang memiliki kesan  tersendiri bagi laki-laki.  Kesan itu juga bervariasi, tergantung dari jenis jilbab yang dipakai.  Berbicara tentang variasi jilbab, dulu waktu SMA saya pernah membagi jilbab ke dalam 3 kelompok: jilbab bahu, jilbab siku, dan jilbab tangan.  Ketiga jenis ini tergantung dari sejauh mana jilbab tersebut menutupi tubuh perempuan tersebut. Baiklah, berikut penjelasannya.

Pertama, jilbab bahu. Adalah jilbab yang jangkauannya hanya sebatas bahu. Sepertinya jilbab ini jenis yang paling banyak memiliki variasi. Ada yang langsung jadi, ada yang model segiempat terus diputar-putar (haha…saya sendiri tidak tau bagaimana memakainya), ada yang pakai bunga, ada lalu ujungnya mengerucut, dan lain-lain.  Warnanya juga sangat beragam, dari yang mencolok mata sampai yang adem-adem saja.  Sepertinya jilbab ini pilihan bagi wanita yang baru saja mulai berazzam untuk memakai jilbab.  Bagaimana pun, hal itu harus disyukuri daripada yang tidak berjilbab sama sekali. Asalkan kemudian ada peningkatan, tidak stagnan hanya pada level jilbab bahu saja.
Continue reading

Advertisements

Ketika Jemariku Menari di Atas Keyboard

Alhamdulillah, atas rizki dari Allah, kemarin rabu saya resmi memiliki sebuah perangkat komunikasi baru yang katanya cerdas. Telepon genggam itu bermerk Berry hitam dengan spek yang lumayan. Dan, ih waw, ternyata saya memang katrok soal teknologi terbaru.  Udah pertama bingung cara pakainya, gimana download aplikasinya, dimana cari tahu pin-nya, sampai tanya temen, ini indikator hape kalau udah dicharge penuh kayak apa.  -_-

Memang, pada mulanya saya gak terlalu ingin membeli hape baru.  Dengan alasan tak ada keperluan yang mendesak, hape yang lama juga sudah cukup memenuhi semua kebutuhan komunikasi.  Telepon, sms, facebook, twitter, livescore, dan browsing situs-situs tertentu. Hape itu adalah hape yang dulunya punya perusahaan Finlandia bertipe C2-01.  Namun, suatu kebutuhan lain yang tak disangka pun muncul.
Continue reading

Amin atau Aamiin?

Beberapa hari ini saya tertarik dengan adanya pembahasan mengenai perbedaan antara lafadz amin dan aamiin.  Pagi ini, saya mencoba menilik lebih jauh tentang masalah itu. Kemudian saya mengetikkan kata kunci “beda amin amiin” di situs search engine.  Saya mendapatkan banyak sekali situs yang membahas permasalahan itu.  Di situs-situs tersebut dijelaskan apa perbedaan antara lafadz amin, aamin, amiin, dan aamiin.  Amin berarti aman, Aamin berarti meminta perlindungan keamanan, Amiin berarti jujur terpercaya, dan Aamiin berarti kabulkanlah. Tapi yang saya lihat dari situs-situs tersebut, kebanyakan hanya asal kopas, bahasa dan penjelasaannya hampir sama. Hanyasaja sebagian ada yang mengambil seluruhnya, yang lain hanya mengambil intinya saja.  Ketika saya mencari-cari lebih jauh, saya tidak menemukan tulisan arabnya dari kata-kata tersebut, kecuali beberapa situs saja.

Continue reading

Merantau

Pagi ini saya menemukan sebuah syair dari Al Imam Asy Syafi’i tentang Merantau. Begitu dahsyat !

Orang pandai dan beradab tak tenang diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, nanti kan kau dapatkan pengganti kerabat dan teman
Berletihlah, manisnya hidup terasa setelah letih berjuang
Sungguh aku melihat air yang diam jadi rusak karena tertahan
Jika mengalir jadi jernih, jika tidak dia ‘kan keruh menggenang
Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak kan kena sasaran
Jika saja matahari tak bergerak dan terus diam,
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang barulah ramai diperebutkan
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota bagaikan emas jadi incaran

(sumber: Belajar Bahasa Arab Facebook Fans Page)
Continue reading

Mudik Lagi

Mudik lagi. Tanggal 15 November, hari kamis, tanggal merah. Otomatis hari jumat menjadi cuti bersama. Plus hari sabtu minggu. Wow..jarang sekali memang ada liburan sampai 4 hari seperti ini. Kesempatan untuk pulang. Bertemu orang tua yang sedari kemarin selalu telepon, menanyakan, ” jadi pulang gak?” Bertemu adik pertama yang sepertinya gara-gara sms kemarin sedikit mengganggu pikirannya. Semoga dia mulai berubah.  Atau setidaknya sedikit mengerti.  I’ll always miss you. Dan terakhir adik yang paling kecil. Setiap kali pulang, selalu dia yang berlari dan memeluk pertama kali. Menunggu di jalan masuk di bawah gapur, sendiri.  Dan kabarnya kakakku juga pulang. Lengkap. Padahal saat lebaran kemarin saja tak bisa selengkap ini. Semoga mudik kali ini spesial. Spesial karena mungkin saja ini saat-saat terakhir di pulau ini. Bulan depan sudah harus menempati tempat baru, pulau baru.
Continue reading

Wonder Mother

Dua hari berkunjung ke rumah kakak. Ada sebuah pemandangan yang menyejukkan. Tentang kasih sayang ibu, tentang kesabaran ibu menghadapi anaknya yang masih kecil. Dia adalah kakak iparku. Seorang ibu baru yang tiga bulan lalu melahirkan putra pertamanya, Kaka’.

Beberapa kali bertemu dengannya memang terlihat biasa. Tampak seperti yang lain. Mengurus anak adalah tanggung jawab utamanya sebagai seorang ibu.  Menyusui, menggantikan popok, memandikan, menidurkan, dan lain-lain. Tak ada yang istimewa. Hanya sesekali saya melihat kemesraan itu lagi.  Kemesraan antara sepasang suami istri yang begitu jarang ditemui.  Saat menyusui anaknya itu, kakak ipar disuapi makan oleh kakak saya. Memang bukan ini pertama kalinya.  Di beberapa kesempatan mereka memang suka melakukan itu.  Entah darimana ide itu datang, tapi itu adalah sebuah pemandangan yang langka. Romantis.

Continue reading

Sederhana Itu Nikmat

Menjadi sederhana itu nikmat. Sungguh nikmat.

Bila kita adalah seorang mahasiswa yang diberi uang saku pas-pasan dari orang tua, maka bersyukurlah. Karena mengalami masa-masa itu adalah pengalaman yang sangat berkesan. Teringat dulu saat masih menjadi mahasiswa, karena memang jatah bulanan saya pas-pasan, saya membatasi pengeluaran saya untuk makan. Sehari dua kali, tidak lebih dari Rp 12.000. Jadi, kalau pagi sudah makan Rp 5.000, sore atau malam harus makan Rp 7.000. Tapi kalau pagi sudah makan Rp 8.000, ya terpaksa malam harus makan seharga Rp 4.000. Meski aturan ini tak sepenuhnya berjalan sebagaimana mestinya, tapi setidaknya beginilah patokan yang harus saya turuti.

Continue reading