Oleh-Oleh dari Negeri Tirai Bambu: Musim Dingin


Beberapa hari yang lalu, tepatnya selama dua minggu, saya diberi kesempatan untuk sejenak melihat suatu negeri yang belum pernah lihat saya sebelumnya, kecuali hanya melalui cerita-cerita di buku, internet, maupun di televisi. Negeri itu terkenal dengan nama negeri Tirai Bambu. Dalam bahasa Indonesia, negara tersebut dikenal dengan nama Republik Rakyat Cina atau RRC.  Sementara di negeri asalnya, negeri itu dikenal dengan nama Zhong Guo atau yang kita kenal dengan nama Tiongkok. Cina merupakan negara komunis yang dipimpin oleh Partai Komunis Cina (PKC) lahir pada tanggal 1 Oktober 1949 setelah berakhirnya perang saudara antara PKC dengan Kuomintang yang menguasai daerah Taiwan.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’.  Dan ternyata kesempatan itu datang juga kepada saya.  Selama 14 hari, saya mendapat tugas dinas dari perusahaan ke beberapa kota di Cina, yaitu Beijing, Xi’an, dan Luoyang untuk melakukan Factory Acceptance Test sebagai witness untuk perwakilan owner.

Tulisan ini semoga bisa menjadi oleh-oleh bagi siapa saja yang mungkin butuh informasi mengenai kondisi di sana atau sekedar tahu seperti apa keadaan di Cina.  Karena saya bukan penulis yang baik yang mohon dimaklumi jika ada kesalahan di sana-sini, hehe.. Tulisan saya bagi dalam beberapa part, karena dikhawatirkan kalau kepanjangan pada males bacanya (pedhe banget pada mau baca, haha…)

Baiklah, dimulai saja. Here we go…

Musim Dingin

Cina merupakan negara subtropis yang memiliki empat musim: gugur, dingin, semi, dan panas.  Kebetulan, saya ke Cina pada musim gugur menjelang dingin.  Sebelum saya pergi memang sudah dipesankan teman-teman yang pernah ke sana untuk membawa peralatan ‘perang’ agar tidak kedinginan di sana.  Dan benar saja, suhu udara di sana sangat dingin.  Dari ketiga kota yang saya kunjungi, Beijing adalah kota yang paling dingin. Bila siang hari, suhu udara sekitar 4 – 7 derajat celcius, sementara malam hari bisa mencapai -2 hingga -4 derajat celcius. Subhanallah…brrrrrr….

Untuk itu, beberapa peralatan yang harus dibawa untuk menghadapi perang musim dingin seperti ini antara lain:

– baju hangat (long jorn)

– jaket tebal

– sarung tangan, penutup kepala, scarf atau syal yang hangat

– krim pelembab kulit

– lip balm agar bibir tidak pecah-pecah

Selain suhu udara yang dingin ternyata udara di Cina juga sangat kering.  Beberapa bintik merah muncul di kulit lengan dan punggung setelah beberapa hari tinggal. Belum ditambah kulit muka dan bibir yang mulai pecah-pecah. Bahkan ada salah satu teman saya yang kulit mukanya sampai terkelupas. Setelah saya membeli beberapa produk perawatan kulit di sana (wew, haha..) sedikit demi sedikit masalah tersebut bisa teratasi.

Sedikit cerita saat mengunjungi Great Wall, suhu udara saat itu sangat dingin. Bahkan kaos kaki rangkap yang saya pakai bisa ditembus dinginnya udara.  Setelah naik kereta gantung, sempat beberapa menit dua jari kaki saya mati rasa. Begitu pula beberapa teman yang lain. Untungnya setelah berjalan dan semakin mendaki ke atas udara semakin hangat.

Sayangnya, setelah dua minggu di sana salju belum turun juga (hiks..hiks..).  Padahal mumpung di sana. Mungkin di lain kesempatan, semoga bisa melihat salju, tapi bukan di Cina, melainkan di Saudi kayak di berita-berita….hehe..amiin..

Part berikutnya tentang makan dan toilet, ditunggu ya…(haha, pedhe banget…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s