Di Bawah Rerimbunan Pohon


Matahari cerah. Suasana pagi menjelang siang yang sejuk dan tenang. Di sebuah panggok sederhana di depan rumah, aku sedikit bersantai ditemani si mungil ‘Aisyah dan kakaknya Umar. Menikmati angin sepoi-sepoi di bawah rerimbunan pohon rambutan yang buahnya sebentar lagi masak. Umar hari ini libur karena sekolahnya sedang dipakai untuk ujian nasional. Sementara ‘Aisyah yang masih berumur empat tahun terlihat senang sekali karena ayahnya juga libur bekerja. Senyum yang menawan dengan lesung di pipinya selalu membuatku tak pernah ingin jauh darinya.

“Ayo, Umar, ‘Aisyah, sudah sampai mana hafalannya sama Ummi?” tanyaku memecah keheningan.
“Baru mau masuk juz 28 Bi, kemarin terakhir setor hafalan surat Al Mulk ke Ummi,” sahut ‘Aisyah.
“Kalau Umar?”
“Sama Bi, sampai surat Al Mulk juga, cuma belum sempet setor ke Ummi kemarin, banyak PR di sekolah,” ujar Umar.
‘Aisyah memang terpaut dua tahun dari kakaknya, tapi soal kemampuan hafalannya dia lebih baik. Meski mulainya menghafalnya tidak berbarengan, tapi hingga kini jumlah hafalannya hampir sama.
“Ya udah, yuk bareng Abi kita muroja’ah lagi surat Al Mulk,” tawarku.
Mereka berdua manggut-manggut.

“A’udzubillahi minasy-syaithan-nirrajim..” aku memulai.
“A’udzubillahi minasy-syaithan-nirrajim..,” mereka berdua mengikuti.
“Bismillahirrahmanirrahim…” lanjutku
“Bismillahirrahmanirrahim…” serempak mereka menirukan.

“Ummiii…!!” tiba-tiba ‘Aisyah berteriak.
Seorang wanita tinggi semampai berbalut hijab lebar dan gelap membawa sebuah nampan kecil berisi teko dan beberapa gelas dari dalam rumah. Sorot matanya begitu tulus menunjukkan kasih sayang yang dalam. Wajahnya teduh, memancarkan aura keibuan.”Asyiiik, Ummi ngerti banget sama kita,” celetuk Umar.
Wanita itu pun hanya tersenyum.
“Ini Ummi bawain minuman dingin, biar muroaja’ahnya semakin semangat,” kata wanita itu.

“Loh, Hafshah mana Mi?” tanya ‘Aisyah menanyakan adiknya yang masih berusia dua tahun.
“Hafshah udah tidur, tadi waktu Ummi masak di dapur dia ketiduran di gendongan Ummi,” jawabnya.
“Yaah, padahal mau gendong Hafshah..”
“Kakak kan belum besar, emang kuat gendong adik?”
“Kan gendongnya sambil dipegangin Ummi..” jawah ‘Aisyah sambil tertawa ringan.
Lesung pipinya semakin terlihat. Manis sekali.

“Assalamu’alaikum…” terdengar suara mendekat dari seseorang menaiki sepeda.
“Wa’alaikumussalam…” serempak kami menjawab sembari menengok.
Ternyata Ahmad, anak tertua kami sudah pulang.
“Loh koq sudah pulang?” tanyaku.
“Iya Bi, ustadnya lagi gak enak badan jadinya pelajarannya sebentar,” jawabnya setelah mencium tanganku dan Umminya.
“Syafahullah, yasudah sini minum dulu, kebetulan Ummi lagi bikin yang seger-seger.”
“Alhamdulillah…” sambil mengambil gelas yang hampir bersamaan diambil adiknya.
“Eh, itu kan punya Umar..,” Umar protes.
“Siapa cepat dia dapat..,” balas Ahmad sambil menjulurkan lidahnya.
“Sudah, sudah, ini kan di teko masih banyak, jangan rebutan,” tengah Umminya.

“Ahmad, kamu gak ada perlu kan? Kamu bantuin Umar sama ‘Aisyah murojaah ya, Abi mau masuk dulu, ada perlu sama Ummi,” kataku.
“Gak ada Bi, sip, tak masalah,” jawabnya.

Sejurus kemudian aku turun dari panggok yang sudah reot itu. Mengajak istriku masuk ke rumah sederhana kami. Ada yang perlu dibicarakan. Tentang masa depan anak-anak kami. Tentang kemana dan bagaimana sepeninggal kami nanti. Sesaat sebelum memasuki pintu, aku menoleh ke belakang, memandang sejenak senyum keceriaan di wajah-wajah prajurit kecil kami: “Ya Allah, masukkkanlah kami ke jannah dengan sebab mereka, dan kumpulkanlah kami kembali di sana kelak”.

Selesai.
======================================================================
Bukan cerita fiksi, hanya sedkit merajut mimpi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s