Cinta…

Pukul 17.16. Lima belas menit lagi adzan Maghrib waktu Jungkat dan sekitarnya. Sebelum itu, mari sedikit berbicara tentang cinta, ahahay…

Cinta itu apa ya? Ini bukan tentang cinta seorang ibu kepada anaknya, atau cinta kakak terhadap adiknya, atau cinta seorang pemain bola kepada klub yang membesarkannya. Hmmm, tapi cinta yang biasa kita suka sebut kalau sedang terjangkit virus merah delima, eh merah jambu dink…

17.19. Kurang dua belas menit lagi. Harus cepet-cepet diselesaikan tulisan ini.

Baiklah, langsung saja. Cinta itu, emmmmm, gimana y? Disuruh buru-buru si, jadi gak fokus ini.

Cinta itu, eh, aku percaya, hmmm, maksudnya, cinta yang seperti itu sejatinya hanya bisa dirasakan ketika sudah menikah. Loh koq? Iya, udah percaya aja.

Jadi, kalau kamu ngelihat aku baikin kamu itu bukan karena cinta. Atau aku nanyain kamu waktu kamu lagi sakit, itu bukan karena cinta. Atau, kalau aku lagi baik mau nganter kamu kemana kek gitu, itu bukan atas nama cinta.

Terus apa itu? Hmmmm, sebut saja namanya, emmmm, apa ya, haha….kata orang tua si simpati.

Intinya, cinta itu tak mungkin datang ujug-ujug. Dia muncul karena berproses. Dari kecil membesar. Kadang udah besar terus kecil lagi.

Dan yap, udah 17.24. Tinggal tujuh menit lagi saudara-saudara. Continue reading

Advertisements

Di Bawah Rerimbunan Pohon

Matahari cerah. Suasana pagi menjelang siang yang sejuk dan tenang. Di sebuah panggok sederhana di depan rumah, aku sedikit bersantai ditemani si mungil ‘Aisyah dan kakaknya Umar. Menikmati angin sepoi-sepoi di bawah rerimbunan pohon rambutan yang buahnya sebentar lagi masak. Umar hari ini libur karena sekolahnya sedang dipakai untuk ujian nasional. Sementara ‘Aisyah yang masih berumur empat tahun terlihat senang sekali karena ayahnya juga libur bekerja. Senyum yang menawan dengan lesung di pipinya selalu membuatku tak pernah ingin jauh darinya.

“Ayo, Umar, ‘Aisyah, sudah sampai mana hafalannya sama Ummi?” tanyaku memecah keheningan.
“Baru mau masuk juz 28 Bi, kemarin terakhir setor hafalan surat Al Mulk ke Ummi,” sahut ‘Aisyah.
“Kalau Umar?”
“Sama Bi, sampai surat Al Mulk juga, cuma belum sempet setor ke Ummi kemarin, banyak PR di sekolah,” ujar Umar.
‘Aisyah memang terpaut dua tahun dari kakaknya, tapi soal kemampuan hafalannya dia lebih baik. Meski mulainya menghafalnya tidak berbarengan, tapi hingga kini jumlah hafalannya hampir sama.
“Ya udah, yuk bareng Abi kita muroja’ah lagi surat Al Mulk,” tawarku.
Mereka berdua manggut-manggut.
Continue reading