Capolista Sang Serigala


Mungkin ini minggu yang luar biasa bagi mereka para Romanisti, para fans klub asal ibukota, Associazone Sportiva Roma.  Euforia minggu-minggu sebelumnya ternyata masih terus berlanjut hingga pagelaran Liga Serie-A giornata kedelapan. Tim berjuluk Il Giallorossi atau tim Kuning-Merah ini mampu mempertahankan winning streak mereka hingga yang kedelapan di awal musim. Start yang sempurna. Bahkan tim besar macam Juventus FC, AC Milan, atau FC Internazionale Milano pun tak mampu melakukannya di beberapa musim belakangan.

Adalah SSC Napoli yang kali ini menjadi korbannya. Bermain di kandang sendiri memang membuat Il Lupi atau tim serigala ini lebih diuntungkan. Para ultras Roma yang memenuhi tribun curva sud maupun fans setia yang memerah-kuningkan Stadion Olimpico siap mendukung tim kesayangan mereka habis-habisan. Pertandingan yang kick-off pukul 19.45 waktu setempat pun berlangsung ketat sejak awal pertandingan. Bukan hanya adu strategi dan unjuk kebolehan antar pemain, tak jarang pula terjadi adu fisik antara kedua tim. It’s really physical game, begitu kata salah satu komentator televisi.

Setelah saling jual beli serangan, akhirnya pecah kebuntuan di menit ke 45+2 babak pertama.  Dia lah Miralem Pjanic, pemain muslim asal Bosnia yang mencetak gol lewat freekick ciamik ke sisi kanan atas gawang kiper Napoli, Jose Manuel Reina.  Melengkung dan tajam. 1-0 untuk tim tuan rumah. Akibat ketertinggalannya tersebut, di awal babak kedua Napoli bermain lebih agresif dan banyak menebar ancaman. Namun naas, pelanggaran terhadap Marco Boriello di kotak terlarang membuahkan penalti bagi AS Roma sekaligus berarti kehilangan satu pemain bagi Napoli akibat kartu kuning kedua bagi Paolo Cannavaro. The Next Prince of Rome, Pjanic yang “diamanahkan” menendang penalti tak menyia-nyiakan kesempatan ini. 2-0 untuk La Maggica Roma. Kedudukan ini pun bertahan hingga peluit panjang berbunyi.

Dua hari berselang, rival AS Roma yang lain asal kota Turin, Juventus FC bertandang ke Stadion Artemio Fracnhi di kota Firenze untuk menghadapi tuan rumah ACF Fiorentina. Pertandingan yang begitu menarik bagi para Romanisti karena hasil pertandingan ini akan menentukan siapa yang akan menjadi pesaing terdekat mereka. Babak pertama berakhir denga skor 2-0.  Gol Carlos Teves melalui titik putih dan gol Paul Pogba membungkam fans fanatik Fiorentina yang telah meng-ungu-kan stadion. Kemenangan hari itu sepertinya akan menjadi milik La Vecchia Signora. Namun, kondisi berubah 180 derajat memasuki menit ke-65. Tendangan penalti dari Giuseppe Rossi membangkitkan asa pemain La Viola. Benar saja, beberapa menit kemudian dua gol kembali dilesakkan Giuseppe Rossi ke gawang Gigi Buffon plus satu gol dari Sanchez Rodriguez membuat skor akhir menjadi 4-2.  Si Nyonya Besar pulang dengan tangan hampa.  Posisi mereka di klasemen pun harus puas di peringkat ketiga mengemas 19 poin di bawah Napoli yang menang selisih gol. Alhasil, Giallorossi hingga pekan kedelapan ini masih nyaman menduduki Capolista dengan jarak 5 poin.

Saya sebagai Romanisti karbitan tentu menikmati masa-masa ini.  Beberapa musim ke belakang, permainan Roma yang selau angin-anginan tidak lagi terlihat dalam beberapa pertandingan terakhir ini. Saya tidak pandai dalam menganalisis permainan, yang saya tahu permainan Roma yang sekarang sangat efektif didukung lini belakang yang solid yang sulit ditembus lawan.  Dengan formasi 4-3-3, mengusung trio penyerang bertipe SS dengan menempatkan Florenzi – Totti – Gervinho sebagai ujung tombak. Di belakang mereka muncul nama Strootman – De Rossi – Pjanic yang mengendalikan dan mengatur tempo permainan. Di lini belakang, berdiri sejajar Balzaretti – Castan – Benatia – Maicon.  Terlihat beberapa kali lawan kesulitan menembus benteng pertahanan Roma. Rapat tapi bukan dengan sistem parkir bus.  Sebagai palang pintu terakhir, berdiri Morgan De Sanctis di bawah mistar gawang, kiper yang dibuang dari SSC Napoli karena alasan untuk memberi kesempatan kiper yang lebih muda berkembang.

Roma bermain taktis. Berusaha menguasai ball possession seperti biasa, kemudian menusuk ke jantung pertahanan lawan baik melalui penetrasi pemainnya maupun tendangan dari luar kotak penalti.  Umpan-umpan pendek masih menghiasi gaya permainan Roma. Tak seperti permainan musim sebelumnya, umpan-umpan pendek kali ini lebih mirip tiki-taka. Tenang dan mengalir begitu saja. Sangat menghibur. Tak tampak permainan menjemukan ala Liga Serie-A yang biasa disebut-sebut orang. Alhasil, skill individu pemain-pemainnya lebih terlihat.  Adalah Gervinho yang suka menari-menari menggocek bola di dalam kotak penalti. Seakan hanya ada dua kemungkinan ketika Gervinho sudah mulai aksinya di dalam kotak terlarang: gol atau penalti.  Pemain yang dibeli dari Arsenal ini memang berkontribusi besar dalam kebangkitan Roma.

Melihat kebangkitan Roma yang sangat mengejutkan ini, media-media pun mulai melempar wacana: Mampukah AS Roma meraih Scudetto musim ini? atau, Siapakah tim yang mampu menghentikan laju Roma sekaligus kekalahan pertamanya musim ini? Well, memang menarik, kita tunggu saja. Apa pun itu, pastinya perburuan Scudetto Liga Serie-A musim ini akan berjalan lebih menarik karena tidak hanya diperebutkan oleh dua tim: Juventus FC atau SSC Napoli.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s