Dongeng Fiktif


Baru saja saya membaca artikel menarik tentang kenakalan anak-anak kecil di negeri Yaman. Cerita ini bersumber dari pengalaman para pelajar Indonesia yang telah dan sedang mencari sejumput ilmu kepada para ulama di negerinya Abu Hurairah, sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits.  Dari artikel itu, ada bagian yang begitu berkesan dan menarik bagi saya.

Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya. Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud. Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar’i.

Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd. kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat. kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.

Glekk!! Taukah kita cerita tentang perang Uhud? Taukah kita siapakah Tholhah bin Ubaidillah? Kalau itu saja masih harus memutar-mutar otak, jangan tanya dulu siapa itu Baqi bin Makhlad. Astaghfirullah…

Lebih jauh, saya jadi teringat masa kecil saya yang begitu banyak mendengar dongeng-dongeng absurd dan tidak jelas asal-usulnya. Meskipun tidak sedikit dari dongeng-dongen itu berisikan petuah-petuah bijak, mengandung pesan moral yang baik, mengandung unsur heroik yang akan tergugah semangatnya bila mendengarnya, tapi tetap saja cerita itu cerita fiktif, bohong, dan tidak pernah terjadi di alam nyata.

Pun juga dengan cerita-cerita horor. Entah itu adanya hantu berwujud ular, berwujud kepala saja, berwujud kaki saja yang berlari-lari. Oh, subhanallah…bagaimana tidak ngeri kalau berjalan sendiri di jalan yang gelap kemudian teringat cerita-cerita seperti itu. Tapi begitulah cerita yang mewarnai masa kecil kita.

Sudahlah. Itu masa lalu. Cukup sebagai pengalaman. Cukup fitrah kita saja yang menjadi korban dongeng-dongeng fiktif seperti itu.  Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana dengan anak-anak kita? Apakah kita akan membuat anak-anak kita mengalami pengalaman serupa dengan masa kecil kita dulu? Saatnya berbenah. Saatnya mulai membaca kisah-kisah teladan yang memang riil benar-benar pernah terjadi di kehidupan nyata. Sedikit demi sedikit sudahi membaca cerita-cerita fiktif meski itu mengasyikkan dan sarat akan nilai moral. Cukup kita saja yang menjadi korban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s