Jazakillah Akhi…


Suatu waktu, ada salah seorang teman perempuan berkomentar di status saya,”jazakillah akhi…”. Glekk! Maksud lo?

Ya, perasaan saya waktu itu jadi campur aduk, antara sebel sama geli, antara pengen marah sama pemakluman. Meskipun saya belum selesai belajar bahasa Arab di Mustawa Tsani (jenjang kedua), meskipun juga belajar Durusul Lughoh jilid II belum tamat, tapi -wabillahi taufiq- saya sudah bisa membedakan mana ungkapan untuk laki-laki dan mana untuk perempuan. Ungkapan jazakillah adalah ungkapan terima kasih yang ditujukan untuk perempuan karena “ki” di sini adalah kata ganti (dhomir) untuk perempuan (muannats). Karena itu, waktu itu saya agak sedikit geli. Sedikit si, tapi banyak sebelnya, hehe…

Selang beberapa waktu, saya menemukan kata yang tidak pas di tempat lain. Sepertisyafakillah, yang merupakan do’a untuk orang yang sakit tapi ditujukan untuk seorang laki-laki. Glekk (lagi)! Bukannya malah sembuh, bisa-bisa orang itu jadi tambah panas dikatain seperti perempuan. Ada lagi yang lebih parah, pada ungkapan barakallah. Mungkin ingin menyamakan dengan ungkapan jazakillah dan syafakillah, maka ungkapan barakallahuntuk perempuan diganti menjadi barakillah, what??

Memang di sisi lain, kita patut bersyukur atas bangkitnya ghiroh kaum muslimin untuk belajar agama dewasa ini (ghiroh bukannya cemburu ya, hehe). Dengan perkembangan semangat mengaji itu, banyak ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab yang lalu masuk ke dalam percakapan sehari-hari kita. Ketika dulu masih awal-awal SMA, saya mengenal kataikhwan dan akhwat. Kedua kata ini dipakai untuk menunjukkan seorang laki-laki atau perempuan yang ikut pengajian (khususnya mentoring/liqo’). Sampai-sampai, orang di luar pengajian tidak disebut ikhwan atau akhwat meskipun dia seorang muslim. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pula ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab yang mulai sering diterapkan dalam perbincangan sehari-hari.

Hanyasaja, trend ikut-ikutan masih menjadi trend nomor wahid di masyarakat kita. Seperti saya dulu, ketika mulai mengenal ungkapan jazakallah, syukron, na’am, barakallah, sering menerapkan kata-kata itu terutama untuk teman-teman ngaji agar dibilang anak ROHIS banget. Meskipun tidak tau-menau asal-usulnya dan tidak tau bagaiman kata itu terbentuk, karena itu saya anggap keren dan ngetrend, so I’m have to my said (maksudnya?).

Alhamdulillah, ketika kuliah diberi taufiq untuk kursus Bahasa Arab. Sekarang sedikit-sedikit sudah mengerti arti ungkapan-ungkapan itu. Kapan harus bilang jazakallah, kapan harus bilang jazakillah. Kapan harus bilang antum, kapan harus bilang anti. Di sini saya mengerti, betapa indahnya mengilmui sesuatu sebelum mengamalkannya.

Dan di era globalisasi dan teknologisasi ini, saya rasa kalau kita memang berniat untuk belajar bahasa Arab bukan hal yang sulit. Bila kita tidak menemukan seorang guru atau tempat kursus di dunia nyata, maka situs online di dunia maya banyak yang menyajikan situs-situs belajar bahasa arab.

Serta terakhir, adalah penting untuk belajar bahasa Arab bukan untuk bergaya-gayaan. Akan lebih baik jika kita meniatkan belajar bahasa Arab agar bisa memahami Al Qur’an dan Al Hadits, bisa membaca kitab-kitab para ulama, yang nantinya akan menambah khazanah keilmuan kita terhadap agama Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s