Tentang Jenggot


Tulisan kali ini tentang jenggot. Wew, kenapa jenggot? Yap, akhir-akhir ini saya sedang terkesan dengan jenggot saya. Loh…

Qodarullah, jenggot saya tak serapi yang lain. Jenggot saya tumbuh sembarangan kalau tidak dibilang liar. Di dagu itu pasti. Lalu ada juga tumbuh jambang di kanan dan di kiri. Tapi bukan tumbuh terus sampai dagu macam “brewok” gitu, tapi justru tepat di antara telinga dan dagu alurnya malah berbelok ke arah pipi. Nah uniknya, rambut di pipi sudah tumbuh duluan sebelum saya akhirnya menyadari pembelokan arah itu. Terjadilah apa yang terjadi. Belakangan ini jenggot saya juga tumbuh ke arah leher. Maka, semakin sempurnalah penampakan jenggot saya yang sangat spesial ini.

Jangan dikira memelihara jenggot bukan tanpa tantangan. Banyak sekali tantangannya, bukan dari luar, malah lebih seringnya dari dalam. Ada perasaan jadi gak ganteng, ada perasaan nanti dikira teroris, ada perasaan nanti gak ada cewek yang mau (hehe..), dan seabrek perasaan yang lain. Dan ketika perasaan itu muncul, saya kuatkan azzam saya untuk tetap di atas jalan Nabi. Saya coba ikutkan dengan mengingat hadits Nabi,

“Peliharalah jenggot kamu dan cukurlah kumis kamu, janganlah kamu meniru (menyerupai) Yahudi dan Nasrani”. (HR Ahmad)

serta hadits-hadits Nabi lain yang semakna. Memang saya tak ingat persis redaksinya, yang saya ingat persis Nabi memerintahkan kita memelihara jenggot dan mencukur kumis. Dan ini hukumnya wajib. Bahkan dilarang pula mencukurnya sebagian meski niatnya untuk merapikan. Karena dalam redaksi lain, Nabi memerintahkan untuk membiarkannya. Dan alhamdulillah, karena taufiq dari Allah, jenggot saya masih tumbuh sampai detik ini.

Bahkan akhir-akhir ini saya jadi sangat bersyukur memiliki jenggot yang tebal. Beberapa kali berpapasan dengan seseorang, dengan spontan dia mengucapkan “assalamu’alaikum”. Padahal, jarang sekali di masyarakat kita bila bertemu mengucapkan salam. Saat itu, saya juga sedang tidak memakai sarung atau pakaian muslim (koko). Setelah berpikir, barangkali mereka mengenali saya sebagai seorang muslim karena jenggot saya. Masya Allah, bukankah itu sebuah kenikmatan dikenali sebagai seorang muslim? (Bayangkan saja sebaliknya, kalau kita dikenal sebagai seorang Majusi atau Yahudi atau label-label dengan imej negatif yang lain). Dan al muhim, dengan kejadian ini pula saya semakin yakin bahwa jenggot adalah identitas seorang muslim sepanjang zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s