Aku dan Islam: Anak ROHIS


Perjalanan saya untuk belajar tentang Islam dimulai sejak SMA.  Masa dimana saya mulai menjalani kehidupan dengan lebih serius.  Masa dimana emosi sudah semakin berkembang, pikiran sudah semakin tertata.  Adalah ROHIS yang menjadi pintu masuk bagi saya untuk mengenal Islam lebih baik.  Organisasi dimana siswa-siswa yang “terpilih” bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk lebih mendalami agamanya.  Sebuah wadah dimana kita saling bertukar pikiran, pemahaman, nasehat, serta tsaqafah Islamiyah dengan lebih intens dan terperinci.  Sebuah perkumpulan dimana Islam merupakan satu-satunya asas yang paling dijunjung tinggi.

ROHIS bagi saya bukan hal baru saat itu. Dua tahun sebelumnya, saat saya masih duduk di kelas 2 SMP, saya pernah mengikuti acara akbar tahunan yang diadakan oleh ROHIS SMA ini, namanya Ramadhan Intensif Remaja (RIR).  Waktu itu, sebagai orang yang masih sangat awam dengan agama, saya terpesona dengan kepribadian dan militansi para pengurusnya.  Jenggot panjang, celana cungklang -meski masih dilipat-, serta wawasan agamanya yang cukup, memberi gambaran bagi saya betapa mereka sangat Islami sekali.  Maka, sejak saat itu, ketika nanti saya bisa melanjutkan sekolah di SMA ini, saya bertekad untuk ikut kegiatan ROHIS.

Selang dua tahun, saya pun diterima di SMA ini.  Seperti tekad saya sebelumnya, saya pun ikut jadi anggota ROHIS. Tahun pertama di ROHIS merupakan masa adaptasi bagi saya.  Kebetulan saat itu, ketua ROHISnya tinggal satu kosan dengan saya.  Jadi, banyak sekali cerita yang bisa saya terima tentang ROHIS. Dalam ROHIS ini banyak hal baru yang saya temui khususnya terkait masalah agama.  Satu hal yang paling saya ingat adalah kegiatan mentoring. Suatu kegiatan berkumpul bersama yang dilakukan dalam jumlah yang kecil yang dibimbing oleh seorang pemateri yang disebut mentor.  Biasanya berisi kajian dan taushiyah.  Dalam dunia perkampusan, kegiatan bisa juga disebut liqo. Ternyata dari sinilah kebanyakan pengetahuan para pengurus ROHIS bertambah.  Mentor kami waktu itu adalah kakak alumni SMA ini, baik yang masih kuliah maupun yang sudah bekerja.  Kegiatan dilakukan setiap pekan sekali dengan tema yang berbeda-beda.  Waktu itu tema yang paling saya sukai adalah tentang tipu muslihat orang-orang kafir terhadap kaum muslimin karena setelah mengikuti kegiatan mentoring biasanya semangat saya langsung terbakar.

Sekilas mengenai mentoring. Waktu itu saya tidak memiliki pikiran lain ada apa dibalik kegiatan mentoring itu.  Waktu itu saya masih sangat polos, belajar agama Islam secara intensif saja baru kali ini.  Hanyasaja, memang, materi-materi yang disuguhkan kebanyakan materi yang ringan bukan materi yang berbobot. Yang paling jelas terlihat, porsi untuk menjelaskan masalah aqidah sangat sedikit, bisa dibilang bukan sebagai prioritas.  Materi tentang makna syahadatain atau tentang aqidah yang selamat (salimul aqidah) pernah disampaikan sekali, namun setelah itu tidak pernah diulang kembali.  Terlebih materi tentang beda sunnah dan bid’ah, tidak pernah dibahas kecuali ketika saya sudah duduk di kelas 2 karena suatu alasan tertentu.  Pernah ada yang mengatakan, mereka para alumni yang menjadi mentor adalah orang-orang partai yang sedang melakukan kaderisasi di SMA-SMA, tetapi saya tidak terlalu percaya waktu itu.  Pertama, karena saya masih yakin dengan niat ikhlas mereka untuk berdakwah semata-mata karena mengharap ridho Allah -bukan untuk merekrut massa agar nantinya memilih partai mereka-. Kedua, karena anak SMA belum memilih hak pilih, jadi percuma saja mereka melakukan pengkaderan kepada anak SMA.

Oleh karena itu, tahun pertama saya di ROHIS berjalan biasa-biasa saja, mengikuti arus yang ada saja. Suruh ini ikut ini, suruh itu ikut itu.  Bahkan hubungan saya dengan mentor justru semakin dekat.  Saat liburan semester pertama, saya beserta ketiga teman saya diajak ke Ponpes Daarut Tauhid, Bandung.  Saat itu memang ada seorang da’i yang sedang naik daun yang sangat sering tampil di tv.  Dengan berniat mengambil faedah dari ustadz tersebut, pergilah kami ke ponpes tersebut berlima.  Di sana kami hanya menginap dua malam.  Karena tidak ada penginapan, kami tidur di dalam masjid. Kami sempat mengikuti taushiyah dari beberapa ustadz. Tapi giliran taushiyah dari ustadz tersebut, kami tidak mendapat tempat duduk di dalam masjid karena jamaahnya membludak sampai ke luar masjid.  Qadarallah, kami pun tidak berkesempatan bertatapan langsung dengan sang ustadz. Pada kunjungan tersebut, kami juga berkesempatan untuk melihat rumah ustadz tersebut.  Maklum saja, ustadz tersebut bagi kami waktu itu adalah seorang figur ustadz yang tidak ada duanya. Maka dari segala sisi kami mencoba untuk mencontohnya.

Demikian tahun pertama saya di ROHIS.  Semuanya berjalan normal-normal saja. Memang, saat itu saya merasakan perubahan pada diri saya. ROHIS telah membuat saya mengenal agama Islam dengan lebih baik.  Pemahaman saya mengenai isu yang berkembang pada umat (begitu bahasanya) juga semakin bertambah.  Hanyasaja, justru timbul di benak saya, beginikah rasanya menjadi anak ROHIS?  Rasanya koq biasa-biasa saja.  Tidak seperti para senior saya di kelas 3 yang sepertinya lebih berilmu dan militan sehingga rasa-rasanya saya masih jauh tertinggal.  Sampai pada suatu hari, perjalanan saya mengenal Islam pun berubah 150 derajat (tidak sampai 180 derajat, hehe). Semua bermula dari masjid komplek dekat saya tinggal. Masjid Al Muqorrobin namanya. Dari situ kisah perjalanan yang penuh liku itu pun dimulai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s