Tiga Jenis Jilbab


Jilbab. Malam ini saya teringat sesuatu tentang jilbab. Wanita yang memakai jilbab memang memiliki kesan  tersendiri bagi laki-laki.  Kesan itu juga bervariasi, tergantung dari jenis jilbab yang dipakai.  Berbicara tentang variasi jilbab, dulu waktu SMA saya pernah membagi jilbab ke dalam 3 kelompok: jilbab bahu, jilbab siku, dan jilbab tangan.  Ketiga jenis ini tergantung dari sejauh mana jilbab tersebut menutupi tubuh perempuan tersebut. Baiklah, berikut penjelasannya.

Pertama, jilbab bahu. Adalah jilbab yang jangkauannya hanya sebatas bahu. Sepertinya jilbab ini jenis yang paling banyak memiliki variasi. Ada yang langsung jadi, ada yang model segiempat terus diputar-putar (haha…saya sendiri tidak tau bagaimana memakainya), ada yang pakai bunga, ada lalu ujungnya mengerucut, dan lain-lain.  Warnanya juga sangat beragam, dari yang mencolok mata sampai yang adem-adem saja.  Sepertinya jilbab ini pilihan bagi wanita yang baru saja mulai berazzam untuk memakai jilbab.  Bagaimana pun, hal itu harus disyukuri daripada yang tidak berjilbab sama sekali. Asalkan kemudian ada peningkatan, tidak stagnan hanya pada level jilbab bahu saja.

Lalu yang kedua, jilbab siku.  Jilbab ini yaitu jilbab yang jangkauannya sudah sampai siku. Biasanya sering ditemui pada akhwat-akhwat ROHIS SMA, juga akhwat-akhwat tarbiyah yang baru mulai belajar (hehe…taunya cuman tarbiyah, soalnya orang-orang HTI, dll jarang ketemu di kampus).  Bila dari segi warna, biasanya warnanya sudah mulai cenderung berwarna kalem, tidak banyak yang berwarna mencolok.  Jilbab jenis ini sudah sangat mending. Karena biasanya pemakai, sudah mulai paham apa itu makna jilbab. Bukan untuk mode, tapi memang diniatkan untuk menutup aurat. Tetapi tetap dengan syarat, tidak stagnan hanya pada level tersebut.

Lalu yang terakhir, jilbab tangan. Jilbab ini jilbab yang jangkauannya sudah mencapai pergelangan tangan atau bahkan sudah menutupi kedua tangan. Jilbab jenis ini masih jarang ditemui di masyarakat kita.  Karena memang pakaiannya yang lebar yang masih terkesan aneh di dalam masyarakat. Dari segi warna, saya membagi dua: warna-warni dan gelap. Kebetulan karena ketidakgaulan saya, saya lebih sering melihat akhwat yang memakai warna gelap daripada yang memakai warna yang cerah.  Dan untuk yang gelap itu, saya mengistilahkannya dengan akhwat-akhwat militan karena mereka berani tampil beda di antara kebanyakan masyarakat dan merekalah yang berani menampilkan sunnah (syariat Islam) yang sudah mulai terlihat asing. Kalau pun tangan saya punya seribu jempol, saya rasa itu sangat kurang untuk menunjukkan kesalutannya kepada mereka.

Ya, begitulah sekilas pembagian jilbab menurut saya yang sebenarnya sangat tidak penting.  Pembagian ini hanya iseng saja dan timbul secara tiba-tiba.  Betewe, jenis jilbab yang mana ya istri saya nanti, heuheuheu… (apa siiii…) 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s