Ketika Jemariku Menari di Atas Keyboard


Alhamdulillah, atas rizki dari Allah, kemarin rabu saya resmi memiliki sebuah perangkat komunikasi baru yang katanya cerdas. Telepon genggam itu bermerk Berry hitam dengan spek yang lumayan. Dan, ih waw, ternyata saya memang katrok soal teknologi terbaru.  Udah pertama bingung cara pakainya, gimana download aplikasinya, dimana cari tahu pin-nya, sampai tanya temen, ini indikator hape kalau udah dicharge penuh kayak apa.  -_-

Memang, pada mulanya saya gak terlalu ingin membeli hape baru.  Dengan alasan tak ada keperluan yang mendesak, hape yang lama juga sudah cukup memenuhi semua kebutuhan komunikasi.  Telepon, sms, facebook, twitter, livescore, dan browsing situs-situs tertentu. Hape itu adalah hape yang dulunya punya perusahaan Finlandia bertipe C2-01.  Namun, suatu kebutuhan lain yang tak disangka pun muncul.

WhatApps. Ya itu alasannya. Karena beberapa akhir ini kakak dan ibu saya mulai sering menggunakan fitur ini dan ternyata hape saya tidak mampu mengakomodir kebutuhan ini, akhirnya saya putuskan dengan segera bahwasanya saya harus membeli hape jenis baru, yang setidaknya mampu untuk menampung aplikasi seperti ini. Dan dengan pertimbangan karena hampir seluruh teman di kantor saya memakai hape Berry hitam itu, maka pilihan saya langsung jatuh ke hape jenis itu. Awalnya tidak terlalu sreg. Harganya coy, mahal pisan. Tapi tak apalah, sekali seumur hidup. Jiaahhh, niatnya sih… 😀

Lalu, apa hubungannya dengan judul postingan ini? Ya, dan ternyata hape sesemart apa pun, masih lebih enjoy jika kita mengetik sesuatu di atas papan tuts.  Dari sini saya sadar bahwa kenikmatan memainkan jari di atas papan tuts belum bisa dikalahkan dengan teknologi secanggih apa pun. Even itu adalah sebuah layar touch screen. Mana bisa jari kita cetak-cetok di atas layar touch screen, terlebih tombol Enter, bisa jebol itu layar.

Akhir kata, inilah postingan saya yang ketiga di bulan Februari. Setelah vakum hampir 2 bulan sejak akhir Desember. Memang bulan Januari kemana? Saya tidak kemana-kemana. Saya masih sering di depan laptop, memainkan jari-jemari di atas papan tuts, menulis sesuatu, tapi bukan untuk blog ini. Sebenarnya malah, banyak sekali kejadian yang bisa saya tulis pada bulan Januari kemarin. Tapi ternyata, kejadian itu adalah kejadian-kejadian yang terlampau sulit untuk diceritakan. Masih belum mampu hati ini untuk menuliskannya. Khawatir akan kembali terlarut dalam perasaan itu. Semoga saja suatu saat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s