Aku dan Cinta: First Love


First love atau cinta pertama. Bukan istilah yang asing lagi bagi kita. Setiap masing-masing kita memiliki kisah sendiri bagaimana perasaan cinta itu muncul pertama kali.  Saya rasa, bagi kebanyakan orang,  cinta pertama hadir saat mereka mulai tumbuh dewasa, saat masih remaja, saat baru pertama kali merasa adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dan hanya sedikit sekali di zaman ini mereka yang baru merasakan cinta pertama saat sudah tumbuh dewasa.

Ya, cinta. Anggaplah begitu. Sebenarnya pemaknaan akan cinta pertama sendiri tidak terlepas dari bagaimana seseorang memaknai akan arti cinta itu sendiri. Saya sendiri, meyakini bahwa pemaknaan cinta setiap orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Mereka yang baru menginjak bangku SMP, mereka yang baru berseragam SMA, mereka yang sedang kuliah, atau mereka yang sedang menjalani hari-harinya pasca kuliah memiliki pengertian yang berbeda tentang arti cinta. Makna akan cinta itu akan berkembang sesuai dengan pengalaman dan pemahaman hidup kita, seiring dengan usia dan kedewasaan seseorang. Jadi, bagaimana mungkin cinta pertama itu hanya datang satu kali?  Tidak, cinta pertama itu akan datang berkali-kali seiring dengan berubahnya makna cinta itu sendiri bagi seseorang. Hanyasaja dengan syarat, pemaknaan cinta itu memilik makna baru dan bisa menghapus makna cinta sebelumnya. Indikasi yang paling jelas, saat ini kita tak bisa lagi mencintai yang dulu pernah kita cinta.  Bukankah kita pernah merasa begitu? 🙂


Meski demikian, saya tetap setuju tentang suatu perkataan, “Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Kau, dia, kalian, tetap berada dalam sebuah ruang yang disebut kenangan.” Ya, dia, masa lalu kita, bagaimana pun kita menguburnya, bagaimana pun kita melupakannya, akan tetap menjadi masa lalu kita, dan menjadi bagian dari kenangan hidup kita. Ini manusiawi dan sepertinya tidak ada orang yang bisa mengelaknya. Seperi halnya kejadian-kejadian “pertama” yang lain dalam hidup, cinta pertama itu pun akan selalu terkenang.

Saya sendiri masih ingat, bagaimana perasaan pertama itu muncul.  Ceritanya, saat itu ada Ujian Nasional kelas 6 SD, yang dulu namanya masih EBTANAS. Berhubung murid kelas 6 di SD saya sedikit, maka digabunglah dengan kelas 6 SD lain di SD desa sebelah. Dari situlah, saya mulai mengenal sosok seorang perempuan. Cantik memang dibandingkan yang lain, hehe.. Ujian dilaksanakan selama 1 minggu, dan setiap hari itu pula, sebelum ujian berlangsung, saya bisa melihat dia berangkat ke sekolah.  Perasaan itu pun muncul seiring berjalannya waktu. Lambat laun perasaan itu menguat dan rasanya koq lain ya, halah… Hanyasaja, waktu itu saya sangat pemalu. Bagaimana tidak, dari enam murid perempuan yang ada di kelas saya, tak ada satu pun yang kenal akrab. Lha ini, bagaimana mau berkenalan dengannya? Halah, ngimpi.

Dan suatu saat, Allah pun menakdirkan saya bertemu dengannya. Dalam sebuah kendaraan umum, ketika saya hendak pulang setelah selesai mendaftar di SMP. Dan terjadilah percakapan itu.
“Nembe ndaftar teng pundi mas?” tanya dia. (Baru mendaftar di mana mas?)
Eh…spontan saja saya kaget. Tak menyangka dia akan bertanya kepada saya. Ada apa ini? Mungkinkah? (ehehe…) Sambil malu-malu saya menjawab.
“Di kutoarjo”, itu jawaban saya. Singkat, padat, dan jelas. Tak ada basa-basi. Dan setelah itu tak ada lagi percakapan di antara kami. Hanya itu.
Akhirnya, karena kami sekolah di SMP yang berbeda, maka komunikasi pun tak mungkin dilakukan. Dan seiring berjalannya waktu, dia pun lambat laun hanya seperti bayangan. Ada, tapi tak mungkin disentuh (halah…). Dan setelah beberapa tahun, akhirnya perasaan itu pun layu, meredup, lemah, dan hilang entah kemana.

Dan selang beberapa tahun, saat kuliah semester 1, dengan adanya media sosial friendster waktu itu, saya berhasil menemukan akun profilnya (yess.. :D). Hanyasaja waktu itu, bagi saya pemaknaan akan cinta sudah lain. Perasaan yang dulu disebut cinta, saat itu sudah tak teranggap lagi. Mungkin lebih tepatnya tentang kriteria. Semakin berkembangnya pemahaman hidup kita maka kriteria “cinta” pun akan berubah. Dulu yang penting cantik, sekarang harus ini, harus itu. Maka perkenalan yang kedua ini, lebih saya anggap sebagai teman lama, teman yang lama sekali tak bersua. Maka diperkenalan yang kedua itu, sambil iseng, saya bertanya kepadanya.
“Eh, masih ingat gak dulu waktu kita ketemu di angkot habis pendaftaran SMP?” berharap dia ingat.
“Emmm, yang mana ya, aku gak ingat”, jawabnya.
Uwaaaaaa, uassemmikk. Ternyata oh ternyata. Tak ditanya, tak dinyana. Dasar wanita. Perasaannya memang susah ditebak. Aku kira, aku kira, tapi ternyata dan ternyata. Fiuuuhhh.. dan sejak saat itu, saya tidak jadi menganggapnya teman lama, tapi teman baru, teman yang berkenalan di dunia maya, teman friendster, hehe…

Dan saat ini, usia saya sudah 23.  Bukan lagi bisa dianggap ABG (atau malah ABG tua, haha..). Dalam sebuah buku psikologi remaja, istilahnya sedang memasuki tahap remaja akhir. Pemahaman tentang kehidupan saat ini tentu sudah jauh berbeda dibandingkan ketika dulu saat mau masuk SMP. Begitu pun dengan makna cinta. Cinta yang memang layak disebut dengan cinta. Bagaimana pemaknaan akan cinta itu sekarang? Simpel. Jawabannya adalah keluarga. Seorang ibu cinta kepada anaknya, seorang kakek mencintai cucunya, seorang suami mencintai istrinya. Entah bagaimana bisa, keluarga benar-benar contoh konkrit dari implementasi rasa cinta itu sendiri. Meski komunikasi jarang dilakukan, namun ketika ada saudara kita yang rumahnya jauh sedang ditimpa musibah, sedang mengalami kesusahan, hati dengan sendirinya akan tergerak untuk membantunya. Tentunya hal ini lebih bila itu orang tua kita, saudara kandung kita, atau kakek nenek kita yang setiap hari dekat dengan kita. Masya Allah, begitu hebat ikatan batin ini. Inilah cinta, inilah cinta sesungguhnya. Maka dari itu, ketika ada seorang wali menyerahkan putrinya kepada seorang laki-laki, dengan ikrar yang pasti, dengan ucapan yang begitu sakral, lantas kemudian calon suaminya itu pun mengiyakan, menerimanya sebagai istrinya, menerima beban tanggung jawab wanita tersebut kepadanya, menerimanya sebagai pendamping hidupnya, maka sejak saat itu, kisah cinta yang sebenarnya baru akan dimulai. Cinta pertamanya dalam hidupnya. Cinta dengan pemaknaan yang sebenarnya. Cinta yang suci, murni, sejati, sempurna dan abadi kepada seseorang yang dihalalkan untuknya karena Allah, Rabb yang menciptakan cinta itu sendiri. 😀

Bersambung, insya Allah…

Akad Nikah (1)

4 Comments

  1. Ahem, jadi kapan merealisasikan definisi cinta yang sesuai dengan kalimat-kalimat akhir pada artikel di atas? Ouch, atau jangan-jangan, makna “bersambung, insyaAlah…” adalah “soon, insyaAllah…” 😀

    barakallahu fiik, akhi… keyf halak? no hp-mu ganti tho? kok gak muncul di WA-ku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s