Aku dan Cinta: Prolog


Kisah cinta masa remaja. Di dalam suatu negeri yang kebanyakan institusi pendidikannya tidak ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan, adalah lumrah bila kita sering mendengar berbagai macam kisah cinta sepasang dua anak manusia di kala masih berusia belia. Dalam kisah itu, ditemui perasaan bahagia, tawa, tangis, pilu, atau nelangsa.  Akhir ceritanya ada yang happy ending, ada yang sad ending.  Saya tidak mengatakan semua, tapi sebagian besar manusia di negeri ini pasti pernah mengalaminya.

Masa SMP adalah masa dimana pertumbuhan emosional dan fisik kita mulai bertransformasi secara pesat dari anak-anak menuju remaja. Persinggungan fisik antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dianggap lagi hal yang biasa. Masih segar diingatan saya ketika saya mengajak bersalaman teman-teman perempuan waktu acara halal bi halal saat kelas 1 SMP. Untungnya, saat itu tak ada yang menyambut. Saya agak malu-malu memang, hehe… 🙂

Pada sebagian orang, saat duduk di bangku SMP adalah masa di mana mereka menemukan “cinta pertamanya” (ehem.. ). Asal mulanya bisa bermacam-macam.  Entah itu dari pandangan pertama, entah itu karena sering bertemu di dalam kelas, atau entah karena sesuatu hal. Pluk. Begitu bunyinya. Perasaan itu jatuh dari mata turun ke hati. Tak disangka darimana asalnya. Semakin hari justru semakin hebat. Terlebih bila sang pujaan hati memberikan umpan balik kepada kita. Satu senyuman saja bisa membuat kita terbang menuju planet Mars, ehehe..

Ya begitulah, perasaan ini tumbuh subur di kalangan para ABG. Bibitnya cuma satu, tapi peranakannya banyak. Rindu, sedih, cemburu, kesal, marah. Hmmm, tanyakan saja kepada mereka yang lebih berpengalaman. Tentu lebih banyak lagi anakannya. Satu per satu silih berganti menghiasi hari-hari mereka yang sedang jatuh cinta.

Kemudian beranjak ke masa SMA, masa dimana nalar kita sebenarnya sudah berkembang lebih baik. Tapi di sisi lain, pertumbuhan emosi kita juga tidak kalah baiknya. Cerita cinta di masa ini menjadi lebih seru dan lebih nyata. Di masa ini, harapan akan masa depan mulai-mulai muncul. Suatu hubungan sudah mulai dipikirkan sampai ke jenjang pernikahan. Meski sebenarnya masih samar-samar.

Lain lagi dengan masa kuliah. Hubungan antara laki-laki dan perempuan sudah semakin menggunakan pendekatan logika. Faktor u yang tak pernah dianggap sebelumnya sudah mulai dipikirkan. Sudah mulai mengenal: “ah aku tak mungkin sama dia”, dan sebagainya. Perbedaan sudah mulai dipertimbangkan pada masa ini. Kalau sering kita melihat teman kita yang beda agama berpacaran saat masih SMA, di masa ini sudah mulai jarang ditemukan. Mereka yang masuk di perguruan tinggi dengan jurusan yang berprospek biasa-biasa saja juga sudah mulai “mikir-mikir” kalau mau mendapatkan wanita dari jurusan favorit, dokter misalnya. Dan sebagainya, dan sebagainya. Rencana akan masa depan pada masa ini sudah semakin jelas, nyata, dan sistematis.

Masa pasca kuliah? Well. Beda lagi. Pada masa ini orang-orang sudah mulai berprinsip bahwa cinta itu dapat dipelajari, cinta itu dapat ditumbuhkan, dan cinta itu bukan barang abstrak yang datang dan perginya tidak dapat diprediksi. Cinta itu gak buta, justru nafsu yang membuat kita buta. Cinta itu tak sesimpel hanya dengan kirim sms ke pacar: “yank, udah makan belum?” Tapi lebih kompleks, lebih dari sekedar bilang “I love you”.  Dan yang lebih penting, kita akan lebih paham, bahwa hidup itu tak melulu soal cinta. Bukan begitu? 😀

Bersambung…

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s