Ketika Jemariku Menari di Atas Keyboard

Alhamdulillah, atas rizki dari Allah, kemarin rabu saya resmi memiliki sebuah perangkat komunikasi baru yang katanya cerdas. Telepon genggam itu bermerk Berry hitam dengan spek yang lumayan. Dan, ih waw, ternyata saya memang katrok soal teknologi terbaru.  Udah pertama bingung cara pakainya, gimana download aplikasinya, dimana cari tahu pin-nya, sampai tanya temen, ini indikator hape kalau udah dicharge penuh kayak apa.  -_-

Memang, pada mulanya saya gak terlalu ingin membeli hape baru.  Dengan alasan tak ada keperluan yang mendesak, hape yang lama juga sudah cukup memenuhi semua kebutuhan komunikasi.  Telepon, sms, facebook, twitter, livescore, dan browsing situs-situs tertentu. Hape itu adalah hape yang dulunya punya perusahaan Finlandia bertipe C2-01.  Namun, suatu kebutuhan lain yang tak disangka pun muncul.
Continue reading

Advertisements

Aku dan Cinta: First Love

First love atau cinta pertama. Bukan istilah yang asing lagi bagi kita. Setiap masing-masing kita memiliki kisah sendiri bagaimana perasaan cinta itu muncul pertama kali.  Saya rasa, bagi kebanyakan orang,  cinta pertama hadir saat mereka mulai tumbuh dewasa, saat masih remaja, saat baru pertama kali merasa adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dan hanya sedikit sekali di zaman ini mereka yang baru merasakan cinta pertama saat sudah tumbuh dewasa.

Ya, cinta. Anggaplah begitu. Sebenarnya pemaknaan akan cinta pertama sendiri tidak terlepas dari bagaimana seseorang memaknai akan arti cinta itu sendiri. Saya sendiri, meyakini bahwa pemaknaan cinta setiap orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Mereka yang baru menginjak bangku SMP, mereka yang baru berseragam SMA, mereka yang sedang kuliah, atau mereka yang sedang menjalani hari-harinya pasca kuliah memiliki pengertian yang berbeda tentang arti cinta. Makna akan cinta itu akan berkembang sesuai dengan pengalaman dan pemahaman hidup kita, seiring dengan usia dan kedewasaan seseorang. Jadi, bagaimana mungkin cinta pertama itu hanya datang satu kali?  Tidak, cinta pertama itu akan datang berkali-kali seiring dengan berubahnya makna cinta itu sendiri bagi seseorang. Hanyasaja dengan syarat, pemaknaan cinta itu memilik makna baru dan bisa menghapus makna cinta sebelumnya. Indikasi yang paling jelas, saat ini kita tak bisa lagi mencintai yang dulu pernah kita cinta.  Bukankah kita pernah merasa begitu? 🙂

Continue reading

Aku dan Cinta: Prolog

Kisah cinta masa remaja. Di dalam suatu negeri yang kebanyakan institusi pendidikannya tidak ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan, adalah lumrah bila kita sering mendengar berbagai macam kisah cinta sepasang dua anak manusia di kala masih berusia belia. Dalam kisah itu, ditemui perasaan bahagia, tawa, tangis, pilu, atau nelangsa.  Akhir ceritanya ada yang happy ending, ada yang sad ending.  Saya tidak mengatakan semua, tapi sebagian besar manusia di negeri ini pasti pernah mengalaminya.

Masa SMP adalah masa dimana pertumbuhan emosional dan fisik kita mulai bertransformasi secara pesat dari anak-anak menuju remaja. Persinggungan fisik antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dianggap lagi hal yang biasa. Masih segar diingatan saya ketika saya mengajak bersalaman teman-teman perempuan waktu acara halal bi halal saat kelas 1 SMP. Untungnya, saat itu tak ada yang menyambut. Saya agak malu-malu memang, hehe… 🙂

Pada sebagian orang, saat duduk di bangku SMP adalah masa di mana mereka menemukan “cinta pertamanya” (ehem.. ). Asal mulanya bisa bermacam-macam.  Entah itu dari pandangan pertama, entah itu karena sering bertemu di dalam kelas, atau entah karena sesuatu hal. Pluk. Begitu bunyinya. Perasaan itu jatuh dari mata turun ke hati. Tak disangka darimana asalnya. Semakin hari justru semakin hebat. Terlebih bila sang pujaan hati memberikan umpan balik kepada kita. Satu senyuman saja bisa membuat kita terbang menuju planet Mars, ehehe..

Continue reading