Desa Jungkat


Sudah beberapa hari tak bisa menulis. Pikiran masih tersibukkan dengan kondisi di tempat baru. Suasana baru. Lingkungan baru.

Jungkat. Itu nama desa sekarang saya tinggal. Letaknya 18 km dari pusat kota Pontianak. Masuk dalam wilayah kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak. Adalah sebuah penempatan yang tidak saya perkirakan sebelumnya. PLN Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera II. Kantor induknya memang di kota Palembang, tetapi wilayah kerjanya meliputi provinsi di Sumatera bagian selatan plus Kalimantan Barat.

Di desa ini, ada beragam etnis yang tinggal.  Melayu adalah penduduk asli. Bahasanya mirip yang dipakai di film Upin-Ipin, meski masih terdengar berbeda.  Huruf  ‘r’ jarang sekali dipakai, jadi kalau mau bilang besar, orang-orangnya mengucapkannya besa’ dengan penekanan di akhir kata. Masyarakatnya ‘sedikit’ religius. Masjid dan mushola mudah di temui di berbagai titik di setiap desa.  Hanya saja disini akan sering berinteraksi dengan orang Tionghoa, etnis China. Jumlahnya lumayan banyak. Bahkan ruko-ruko di pasar banyak dipasang lampion saat Tahun baru Imlek.  Bahasa pengantar sesama mereka Mandarin, hanya saja berbeda dengan bahasa China asli. Etnis yang lain adalah suku dayak. Jumlahnya tidak terlalu banyak.  Di sini memang jarang ditemui. Kebanyakan mereka tinggal di Kalimantan Timur. Penduduk yang lain dari kaum pendatang, seperti Jawa, Sunda, Padang, dsb.

Kondisi di desa ini cukup kondusif, jauh dari kota tapi tidak terlalu pelosok juga. Jadi relatif sepi. Penduduknya cukup padat, jarak antar rumah relatif dekat. Udaranya panas, apalagi kalau siang saat terik. Malam pun begitu. Gerah lebih tepatnya. Tapi kalau hujan turun, bisa sedikit terasa dingin. Yang khas di desa ini seperti juga daerah lain di Kalimantan adalah rumah panggung. Tidak terlalu tinggi, hanya beberapa centi dari tanah, 20 mungkin.  Di sini tanahnya tanah gambut, jadi bila tidak memakai tiang penyangga mungkin dikhawatirkan akan amblas rumahnya.

Ya begitulah, Jungkat. Desa saya kini tinggal. Padahal tak dinyana-nyana, yang saya pikir kemungkinan ke pulau Borneo kecil, ternyata justru proyek yang masih berjalan dan membutuhkan banyak tenaga di Kalimantan Barat. Walhasil, dari empat orang yang ditempatkan di UIP Kit Sum II, satu orang ke Sanggau, dua orang ke Singkawang, dan satu lagi, saya, ke Siantan.

Dan..ternyata, proyek baru berjalan 40%. Itu artinya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Itu artinya, saya bisa jadi tinggal disini 2-3 tahun lagi. Itu artinya lagi, saya harus memboyong istri saya ke sini. Kecuali mau LDM-an, Long Distance Marriage, hehe.. 🙂

Jungkat

Advertisements

4 Comments

  1. salam,pak ibnu, terima kasih infonya,lumayan dikit buka tentang jungkat hehehehe karena saya juga buta tempat itu, tapi ada kemungkinan akan penempatan disitu. mohon dibantu info,pak, infonya ada tugu khatulistiwa dan terminal batu layang, mana duluan yang masuk wilayah jungkat-siantan-kab pontianak, tugu dulu atau terminal ?
    mungkin bapak bisa bantu, kasi bayangan daerah yang berbatasan dari kota pontianak dengan jungkat-kab pontianak ini,pak. terima kasih banyak.

  2. wah, gak nyangka ada yang komen, terima kasih bu sudah mampir…
    Jungkat itu ada di antara kota Pontianak dan kabupaten Pontianak (Mempawah). Kalau ibu dari bandara atau kota Pontianak, ibu akan menjumpai Siantan dulu, Mungkin ringkasnya sebagai berikut:
    Kota Pontianak – Siantan – Tugu Khatulistiwa – Terminal Batu Layang – Desa Wajok – Desa Jungkat – Sungai Pinyuh – Mempawah (Kabupaten Pontianak).
    Semoga membantu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s