Amin atau Aamiin?

Beberapa hari ini saya tertarik dengan adanya pembahasan mengenai perbedaan antara lafadz amin dan aamiin.  Pagi ini, saya mencoba menilik lebih jauh tentang masalah itu. Kemudian saya mengetikkan kata kunci “beda amin amiin” di situs search engine.  Saya mendapatkan banyak sekali situs yang membahas permasalahan itu.  Di situs-situs tersebut dijelaskan apa perbedaan antara lafadz amin, aamin, amiin, dan aamiin.  Amin berarti aman, Aamin berarti meminta perlindungan keamanan, Amiin berarti jujur terpercaya, dan Aamiin berarti kabulkanlah. Tapi yang saya lihat dari situs-situs tersebut, kebanyakan hanya asal kopas, bahasa dan penjelasaannya hampir sama. Hanyasaja sebagian ada yang mengambil seluruhnya, yang lain hanya mengambil intinya saja.  Ketika saya mencari-cari lebih jauh, saya tidak menemukan tulisan arabnya dari kata-kata tersebut, kecuali beberapa situs saja.

Continue reading

Advertisements

Merantau

Pagi ini saya menemukan sebuah syair dari Al Imam Asy Syafi’i tentang Merantau. Begitu dahsyat !

Orang pandai dan beradab tak tenang diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, nanti kan kau dapatkan pengganti kerabat dan teman
Berletihlah, manisnya hidup terasa setelah letih berjuang
Sungguh aku melihat air yang diam jadi rusak karena tertahan
Jika mengalir jadi jernih, jika tidak dia ‘kan keruh menggenang
Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak kan kena sasaran
Jika saja matahari tak bergerak dan terus diam,
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang barulah ramai diperebutkan
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota bagaikan emas jadi incaran

(sumber: Belajar Bahasa Arab Facebook Fans Page)
Continue reading

Desa Jungkat

Sudah beberapa hari tak bisa menulis. Pikiran masih tersibukkan dengan kondisi di tempat baru. Suasana baru. Lingkungan baru.

Jungkat. Itu nama desa sekarang saya tinggal. Letaknya 18 km dari pusat kota Pontianak. Masuk dalam wilayah kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak. Adalah sebuah penempatan yang tidak saya perkirakan sebelumnya. PLN Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera II. Kantor induknya memang di kota Palembang, tetapi wilayah kerjanya meliputi provinsi di Sumatera bagian selatan plus Kalimantan Barat.

Di desa ini, ada beragam etnis yang tinggal.  Melayu adalah penduduk asli. Bahasanya mirip yang dipakai di film Upin-Ipin, meski masih terdengar berbeda.  Huruf  ‘r’ jarang sekali dipakai, jadi kalau mau bilang besar, orang-orangnya mengucapkannya besa’ dengan penekanan di akhir kata. Masyarakatnya ‘sedikit’ religius. Masjid dan mushola mudah di temui di berbagai titik di setiap desa.  Hanya saja disini akan sering berinteraksi dengan orang Tionghoa, etnis China. Jumlahnya lumayan banyak. Bahkan ruko-ruko di pasar banyak dipasang lampion saat Tahun baru Imlek.  Bahasa pengantar sesama mereka Mandarin, hanya saja berbeda dengan bahasa China asli. Etnis yang lain adalah suku dayak. Jumlahnya tidak terlalu banyak.  Di sini memang jarang ditemui. Kebanyakan mereka tinggal di Kalimantan Timur. Penduduk yang lain dari kaum pendatang, seperti Jawa, Sunda, Padang, dsb.
Continue reading