Wonder Mother


Dua hari berkunjung ke rumah kakak. Ada sebuah pemandangan yang menyejukkan. Tentang kasih sayang ibu, tentang kesabaran ibu menghadapi anaknya yang masih kecil. Dia adalah kakak iparku. Seorang ibu baru yang tiga bulan lalu melahirkan putra pertamanya, Kaka’.

Beberapa kali bertemu dengannya memang terlihat biasa. Tampak seperti yang lain. Mengurus anak adalah tanggung jawab utamanya sebagai seorang ibu.  Menyusui, menggantikan popok, memandikan, menidurkan, dan lain-lain. Tak ada yang istimewa. Hanya sesekali saya melihat kemesraan itu lagi.  Kemesraan antara sepasang suami istri yang begitu jarang ditemui.  Saat menyusui anaknya itu, kakak ipar disuapi makan oleh kakak saya. Memang bukan ini pertama kalinya.  Di beberapa kesempatan mereka memang suka melakukan itu.  Entah darimana ide itu datang, tapi itu adalah sebuah pemandangan yang langka. Romantis.


Dua hari itu saya berkunjung ke rumah kakak. Ada keperluan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman yang juga temannya kakak. Dan saat itu saya baru menyadari kehebatan kakak ipar saya itu. Wonder Mother. Mungkin itu istilah saya untuk menggambarkan seorang ibu yang memiliki tingkat kesabaran yang tinggi saat menghadapi si kecil.  Dan saya melihatnya pada kakak ipar saya.  Dua hari saya di situ, tak ada secuil pun tampak rasa mengeluh ketika dia menghadapi rengekan si kecil. Ada saja yang dilakukan untuk menenangkan si kecil. Entah mengajaknya bermain dengan bonekanya, mengajak berbicara si kecil, bernyanyi kecil, menggendongnya keluar, atau apa saja. Tak ada raut muka wajah kesal atau marah. Tak ada rasa mengeluh. Benar-benar sabar.

Momen yang lain adalah ketika di dalam mobil menuju ke resepsi pernikahan itu. Saya dan kakak di kursi depan, sementara kakak ipar saya itu di belakang bersama anaknya. Terlihat sejak berangkat hingga sampai tujuan tak bosan-bosannya dia bermain dengan Kaka’. Mengajaknya bercerita dan mengajaknya bermain – memegang-megang sesuatu. Bila memang beberapa saat dia merasa mendiamkan Kaka’, kembali lagi dia mengajaknya bercerita. Tak ada rasa lelah sedikit pun.

Dan momen paling berkesan menurut saya adalah saat Kaka’ terus-terusan menangis. Karena AC-nya tak berfungsi normal, udara di dalam mobil terasa panas. Selama beberapa menit Kaka’ menangis. Kakak ipar saya seperti biasa berusaha menenangkannya. Entah dengan bercerita, menggendongnya, atau melihat lampu-lampu di luar jendela. Tapi sepertinya Kaka’ masih belum nyaman dengan kondisi itu sehingga tetap saja menangis. Sampai akhirnya kakak ipar saya itu tampak mulai habis kesabarannya. “Kaka’, udah donk nangisnya..” Dengan suara yang dibuat sehalus mungkin -meski tampak sedang menahan sabar-, kakak ipar saya mencoba menenangkan Kaka’. Hanya yang saya kagum, tak ada celaan, keluhan, atau kekesalan yang keluar dari kata-katanya. Bahkan tak menyalahkan suaminya atau apalah alasan untuk menunjukkan ketidaknyamanannya.  Sungguh pemandangan yang luar biasa.  Menyejukkan melihat seorang ibu yang begitu sabar terhadap anaknya. Hingga beberapa saat akhirnya Kaka’ pun diam dan tertidur.

Kejadian itu mengingatkan saya kepada ibu. Beliau begitu sabar ketika menghadapi Ipan, adik terkecil saya, saat masih berumur beberapa bulan. Tak ada raut muka kesal, marah, atau mengeluh. Karena itu, bagi saya ibu adalah contoh wonder mother yang pernah saya temui. Dan hari itu saya menemukan satu lagi, kakak ipar saya. Kasih sayangnya kepada Kaka’ sepertinya melebihi apa pun. Menyejukkan melihat pemandangan itu.

Semoga ibu dari anak-anak saya kelak juga seorang wonder mother…

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s