Persiapan Menuju Kota Baru

Aku hanya akan berpindah beberapa kilo meter ke arah barat. Sedikit menyeberang pulau. Tidak jauh. Orang-orangnya masih sama, makan nasi, berbahasa Indonesia. Suasana juga kurang lebih sama, panas, macet. Mungkin hanya sedikit kejutan tentang budaya. Cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Toh, aku juga sudah kenal beberapa teman yang berasal dari sana. Setidaknya sedikit punya gambaran tentang sifat dan karakter orang-orang. Tidak jauh. Hanya satu jam dari Jakarta. Malah lebih jauh ke rumah yang harus ditempuh dalam waktu semalaman. Tak ada yang perlu dirisaukan. Meski tak tahu kapan bisa kembali, tapi aku yakin suatu saat ada waktu untuk kembali ke pulau ini.  Setidaknya saat menjemputmu. Saat dimana kau sudah siap untuk memulai hidup barumu. Aku akan membawamu ke kota yang belum pernah kau jamah sebelumnya. Hari itu pasti akan sangat menyenangkan.

Semoga Allah memudahkan urusan ini. Semoga kehidupan di sana menyenangkan. Semoga aku akan menemukan orang-orang yang membuatku semakin lebih baik. Semoga, ini awal yang baik dari sebuah kehidupan yang baru. Semoga…bismillah…

#10 jam sebelum take off

Advertisements

Mudik Lagi

Mudik lagi. Tanggal 15 November, hari kamis, tanggal merah. Otomatis hari jumat menjadi cuti bersama. Plus hari sabtu minggu. Wow..jarang sekali memang ada liburan sampai 4 hari seperti ini. Kesempatan untuk pulang. Bertemu orang tua yang sedari kemarin selalu telepon, menanyakan, ” jadi pulang gak?” Bertemu adik pertama yang sepertinya gara-gara sms kemarin sedikit mengganggu pikirannya. Semoga dia mulai berubah.  Atau setidaknya sedikit mengerti.  I’ll always miss you. Dan terakhir adik yang paling kecil. Setiap kali pulang, selalu dia yang berlari dan memeluk pertama kali. Menunggu di jalan masuk di bawah gapur, sendiri.  Dan kabarnya kakakku juga pulang. Lengkap. Padahal saat lebaran kemarin saja tak bisa selengkap ini. Semoga mudik kali ini spesial. Spesial karena mungkin saja ini saat-saat terakhir di pulau ini. Bulan depan sudah harus menempati tempat baru, pulau baru.
Continue reading

First Goal Ever

Bek kiri. Itu posisi pertamaku di tim ini. Padahal sejak kecil aku tak pernah bermain sebagai pemain belakang. Striker, itu posisi favoritku. Kalau pun tidak ke belakang sedikit, midfielder. Maka itu, aneh saja aku berada di posisi yang asing seperti ini. Seperti tak berkutik, aku juga tak terlalu berkontribusi untuk tim. Sepertinya pertandingan tak akan menjadi spesial.

Entah darimana, di sela-sela pertandingan kakak melihatku, lalu mendekat, dan berkata,” Posisimu itu di depan, jangan main di belakang !” Eh, iya, tapi aku sudah diplot di sini. Kataku dalam hati. Beberapa menit selanjutnya berlalu dengan perasaan bingung: tetap bertahan atau membantu menyerang. Saat itu kedudukan masih 0-0. Pertandingan putaran pertama classmeeting sepak bola kelas satu, 1 F vs 1 C.
Continue reading

Ibracadabra

Ibrahimovic, nama itu kembali terlintas di kepala saya ketika saya melihat cuplikan pertandingan antara PSG vs Dinamo Zagreb tengah pekan ini di Liga Champion. Laga ini  berakhir 4-0 untuk PSG dan keempat gol dihasilkan dari empat assist Ibra, Wow ! Jarang sekali ada pemain yang melakukan hal seperti ini. Fantastis.

Saya mulai mengenal Ibra sejak ia berkostum biru-hitam dan langsung terkesima dengan permainannya. Badannya yang tinggi dan besar, skill individu yang di atas rata-rata, tendangan yang keras, kemampuan aerial yang membuatnya selalu menang saat duel udara, serta yang menjadi ciri khasnya tendangan akrobatik.  Konon, kemampuan yang terakhir ini sering muncul lantaran dia pernah berlatih taekwondo.  Tak bisa dibayangkan bagaimana seorang Ibra bermain taekwondo. Di tendang tak mental, sekali nendang lawannya bisa langsung jatuh pingsan.
Continue reading

Wonder Mother

Dua hari berkunjung ke rumah kakak. Ada sebuah pemandangan yang menyejukkan. Tentang kasih sayang ibu, tentang kesabaran ibu menghadapi anaknya yang masih kecil. Dia adalah kakak iparku. Seorang ibu baru yang tiga bulan lalu melahirkan putra pertamanya, Kaka’.

Beberapa kali bertemu dengannya memang terlihat biasa. Tampak seperti yang lain. Mengurus anak adalah tanggung jawab utamanya sebagai seorang ibu.  Menyusui, menggantikan popok, memandikan, menidurkan, dan lain-lain. Tak ada yang istimewa. Hanya sesekali saya melihat kemesraan itu lagi.  Kemesraan antara sepasang suami istri yang begitu jarang ditemui.  Saat menyusui anaknya itu, kakak ipar disuapi makan oleh kakak saya. Memang bukan ini pertama kalinya.  Di beberapa kesempatan mereka memang suka melakukan itu.  Entah darimana ide itu datang, tapi itu adalah sebuah pemandangan yang langka. Romantis.

Continue reading